Diabetes Tak Bisa Dikontrol Sendirian, Riset UMM Libatkan Keluarga dan Fokus pada Kualitas Tidur

Malang, Bhirawa– Indonesia menempati posisi kelima dunia dalam jumlah orang dewasa berusia 20–79 tahun dengan diabetes menurut data International Diabetes Federation (IDF) 2025. Kondisi ini menunjukkan bahwa pengelolaan diabetes masih menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian.

Menjawab tantangan tersebut, Anggraini Dwi Kurnia, S.Kep., Ns., MNS., PhD., dosen Keperawatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), melakukan penelitian di Kota Malang pada Januari–Mei 2026. Penelitian ini melibatkan sejumlah puskesmas di Kota Malang sebagai lokasi pengambilan sampel darah dan perekrutan pasien.

Sebanyak 106 warga dengan diabetes melitus tipe 2 yang tidak terkontrol dilibatkan dalam studi tersebut. Dari observasi yang dilakukan, Anggraini—sapaan akrabnya—menemukan bahwa persoalan diabetes tidak hanya berkaitan dengan kadar gula darah, tetapi juga kualitas tidur dan kemampuan penderita menjalankan self-management secara konsisten.

Baca Juga:Cegah Perundungan Bermotif Usil, Mahasiswa UMM Edukasi Siswa SD di Kediri lewat Butterfly Hug

“Pada penderita diabetes, kita tidak hanya melihat apakah gula darahnya terkontrol. Kemampuan melakukan self-management dan kualitas tidur juga perlu diperhatikan,” jelasnya.

Salah satu gangguan yang memengaruhi kualitas tidur penderita diabetes adalah sering buang air kecil pada malam hari atau nokturia. Kondisi tersebut membuat penderita berulang kali terbangun sehingga waktu dan kualitas istirahat menurun.

“Ketika kadar gula darah tinggi, penderita bisa mengalami nokturia atau sering buang air kecil pada malam hari. Akibatnya, mereka terbangun berkali-kali dan kualitas tidurnya ikut terganggu,” terangnya.

Temuan tersebut mendorong Anggraini mengembangkan penelitian disertasi bertajuk Effect of Hybrid-theory Based Individual and Family Self-Management Program on Glycemic Hemoglobin and Sleep Quality among Adults with Type 2 Diabetes Mellitus in Indonesia. Program ini menggabungkan diabetes self-management, edukasi kualitas tidur, dan keterlibatan keluarga.

“Saya tidak bisa hanya berfokus pada individu, tetapi juga harus melibatkan keluarga dalam program yang saya buat,” jelasnya.

Penelitian berlangsung selama empat bulan dengan pendekatan hybrid, yakni memadukan kegiatan tatap muka dan daring. Peserta dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok intervensi dan kontrol. Kelompok intervensi memperoleh edukasi mengenai diabetes, pengelolaan kesehatan, dan kualitas tidur.

Aspek self-management yang diterapkan mencakup aktivitas fisik, pola makan sehat, pemantauan gula darah, kepatuhan minum obat, dan perawatan kaki. Pendampingan dilanjutkan melalui kunjungan rumah serta grup WhatsApp yang melibatkan peserta dan anggota keluarga.

“Keluarga dilibatkan agar pasien tidak menjalankan pengelolaan diabetes sendirian. Dukungan tersebut penting untuk membantu mempertahankan kebiasaan sehat,” katanya.

Kualitas tidur peserta diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dan wearable device berupa smartwatch. Perangkat tersebut digunakan untuk memantau durasi tidur dan waktu peserta terbangun sepanjang malam.

Hasilnya, setelah intervensi selama empat bulan, terjadi penurunan HbA1c sekaligus peningkatan kualitas tidur peserta. “Setelah intervensi, kami melihat adanya penurunan HbA1c dan peningkatan kualitas tidur. Artinya, pengelolaan diabetes perlu dilakukan secara menyeluruh,” tuturnya.

Anggraini menilai perubahan perilaku tidak cukup dilakukan melalui edukasi satu atau dua kali. Dukungan keluarga dan tenaga kesehatan diperlukan agar penderita mampu mempertahankan self-management dalam kehidupan sehari-hari.

Pencegahan Diabetes: Kenali Faktor Risiko

Bagi masyarakat yang belum terdiagnosis diabetes, pencegahan dapat dimulai dengan mengenali faktor risiko seperti obesitas, kurang aktivitas fisik, dan pola makan tinggi gula. Pemeriksaan gula darah secara berkala juga penting untuk mendeteksi kondisi lebih dini.

“Supaya tidak jatuh pada penyakit tersebut, sebaiknya kita juga harus berusaha untuk menghindari faktor risiko yang bisa menyebabkan penyakit tersebut,” tuturnya.

Ia mendorong masyarakat untuk aktif bergerak setidaknya 150 menit per minggu, menjaga pola makan sehat, serta membatasi makanan cepat saji, minuman bersoda, dan makanan maupun minuman titing.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed