Vanya, Dai Cilik Asal Malang yang Tembus Prestasi Nasional dan Hafal 13 Juz Al-Qur’an

 

 

Malang, Bhirawa-Usia belia tidak membatasi langkah Vanya (11) untuk berprestasi dan menyiarkan syiar keagamaan. Siswi kelahiran Malang, 13 Agustus 2015, ini berhasil menorehkan sederet prestasi gemilang di bidang dakwah, public speaking, hingga hafalan Al-Qur’an 13 juz.

​Bakat komunikasi siswi SD Islam Aswaja Malang ini terasah sejak dini berkat keteladanan sang ayah, Husni Zulkarnain, yang berprofesi sebagai pendakwah. Dorongan keluarga membuat Vanya tekun belajar berbicara di muka umum hingga mengantarkannya menjuarai berbagai perlombaan.

​Kiprahnya dimulai dengan meraih Juara III Lomba Dai Cilik tingkat Malang Raya pada 2022. Setahun berselang, ia sukses menyabet Juara I ajang Pekan Olahraga, Akademik, dan Seni (POAS) PGMI tingkat nasional.

​”Ayah sering memberi nasihat dan mengajarkan cara berbicara yang baik di depan orang banyak. Hal itu memotivasi saya untuk terus belajar berdakwah,” ujar Vanya.

​Kelihaian Vanya bertutur kata dengan bahasa yang lugas dan komunikatif membuatnya kerap diundang mengisi tausiah di berbagai masjid serta sekolah di wilayah Malang. Tak hanya di panggung luring, Vanya juga dipercaya mengasuh program siaran keagamaan mingguan setiap hari Rabu di Radio Republik Indonesia (RRI).

​”Senang bisa berbagi ilmu lewat radio. Rasanya seperti mengajak orang berbuat kebaikan. Meski terkadang lelah sepulang sekolah, aktivitas dakwah ini tetap menyenangkan bagi saya,” tambahnya.

​Di samping kesibukan dakwah dan akademik, Vanya menunjukkan komitmen kuat dalam menyelesaikan hafalan Al-Qur’an yang kini telah menembus 13 juz. Langkah ini sejalan dengan cita-cita mulianya di masa depan.

​”Saya bercita-cita menjadi dokter agar bisa mengobati banyak orang, sekaligus tetap menjadi hafizah yang bermanfaat bagi sesama,” ungkapnya.

​Menanggapi pencapaian putrinya, Husni Zulkarnain menegaskan komitmen keluarga untuk tetap menjaga keseimbangan antara aktivitas syiar dan pendidikan formal. Pendampingan orang tua difokuskan pada pembentukan karakter tanpa mengorbankan waktu belajar di sekolah.

​”Kami selalu menyeimbangkan antara kegiatan dakwah dan capaian akademik Vanya. Bagaimanapun, pendidikan formal tetap menjadi prioritas utama tumbuh kembangnya,” tutur Husni.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *