Raih Rekor MURI Festival Mangrove XI, Senator Lia Istifhama Puji Gerakan ‘Sedekah Oksigen’ Khofifah

Probolinggo, Bhirawa – Komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam menjaga kelestarian kawasan pesisir kembali menorehkan prestasi gemilang. Pemprov Jatim berhasil memecahkan penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dalam ajang Festival Mangrove Jawa Timur XI yang digelar di kawasan Bee Jay Bakau Resort (BJBR), Kota Probolinggo, belum lama ini.

​Penghargaan prestisius ini diraih atas rekor aksi penanaman mangrove serentak dengan keterlibatan pelajar dan elemen masyarakat terbanyak di Jawa Timur.

​Capaian tersebut menuai apresiasi langsung dari Anggota DPD RI terpilih asal Jawa Timur, Lia Istifhama. Senator yang akrab disapa Ning Lia ini menilai langkah Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa membumikan narasi “sedekah oksigen” sangat relevan dan menyentuh kesadaran publik secara luas.

​”Sedekah oksigen yang digaungkan Ibu Khofifah merupakan pesan yang luar biasa. Menanam mangrove bukan sekadar merawat ekosistem hari ini, tetapi mewariskan masa depan yang sehat bagi anak cucu kita. Ini gerakan progresif yang patut diapresiasi dan menjadi role model bagi daerah lain,” terang Ning Lia.

​Lebih lanjut, Ning Lia menekankan bahwa pelibatan generasi muda, khususnya kalangan pelajar, menjadi kunci penguatan edukasi ekologis jangka panjang. Kolaborasi lintas elemen ini membuktikan bahwa gerakan lingkungan dapat menjadi aksi kolektif yang inklusif dan berdampak nyata.

​Di sisi lain, Gubernur Khofifah menegaskan bahwa aksi tanam pohon bakau ini tidak sekadar agenda seremonial, melainkan investasi strategis menghadapi krisis iklim global.

​”Bagi saya, ini adalah sedekah oksigen. Kalau kita cari di mesin pencari, rujukan sedekah oksigen itu insyaallah mangrove. Karena itu, saya senantiasa mengajak seluruh masyarakat untuk terus bersedekah oksigen demi masa depan bumi,” tutur Khofifah.

​Menurut Khofifah, keberadaan sabuk hijau mangrove memiliki fungsi ekologis multifungsi: meminimalisasi risiko abrasi laut, menyerap emisi karbon secara optimal, menjaga habitat keanekaragaman hayati pesisir, hingga menggerakkan sektor ekonomi warga lokal. Khofifah juga mewanti-wanti pentingnya proses pasca-tanam, yakni pemeliharaan dan monitoring berkala.

​Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Jumadi, memaparkan data tren positif luasan tutupan vegetasi mangrove di Jawa Timur. Tercatat kawasan mangrove bertambah signifikan seluas 3.846 hektare dalam kurun empat tahun—dari 27.221 hektare pada tahun 2021 menjadi 31.067 hektare pada tahun 2025.

​”Tutupan mangrove di Jawa Timur saat ini tercatat sebagai yang terluas di Pulau Jawa, menyumbang hampir 50 persen dari total luasan mangrove regional Jawa,” jelas Jumadi.mut

​

​

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *