Jadi Tameng dan Wajah Kampus, Humas Perguruan Tinggi Dituntut Humanis dan Responsif

Forum Penguatan Humas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) LLDIKTI Wilayah VII.

Kota Malang, Bhirawa

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengambil peran strategis dengan menjadi tuan rumah Forum Penguatan Humas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) LLDIKTI Wilayah VII. Mengusung tema “Strategi Kehumasan untuk Mewujudkan Diktisaintek Berdampak”, gelaran regional ini sukses dilaksanakan di Ruang Sidang Senat (RSS) Kampus Putih UMM pada Rabu (22/7).

​Agenda ini digelar sebagai langkah responsif dalam menghadapi derasnya arus informasi digital sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan tinggi di Jawa Timur.

​Kepala LLDIKTI Wilayah VII, Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M., memberikan apresiasi tinggi terhadap ekosistem akademik UMM yang mendukung terbangunnya kolaborasi antar-kampus ini. Menurutnya, humas merupakan elemen kunci dalam pemasaran pendidikan yang wajib didukung kemampuan public relations mumpuni.

​”Di lingkungan PTS Wilayah VII, seluruh kampus harus selalu solid dan tangguh. Jadikan setiap dinamika perubahan sebagai kekuatan untuk membentuk kehumasan yang produktif dan menjadi agen perubahan bernilai tambah bagi masyarakat luas,” tegas Dyah Sawitri.

​Dari sudut pandang transformasi digital, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokol Kemdiktisaintek, Doddy Zulkifli Indra Atmaja, S.I.Kom., M.Si., menyoroti pentingnya pergeseran paradigma komunikasi publik. Ia menekankan agar PTS mulai meninggalkan publikasi yang hanya bersifat seremonial dan beralih ke strategi storytelling (penceritaan) yang menonjolkan dampak nyata.

​”Humas di era sekarang tidak hanya dituntut menghasilkan tumpukan rilis publikasi sebanyak-banyaknya, melainkan harus memastikan pesan tersebut dipahami, mampu mengubah persepsi, dan benar-benar melahirkan kepercayaan yang berdampak,” jelas Doddy.

​Pandangan senada disampaikan Kepala Humas UMM Periode 2022–2025, Dr. M. Isnaini, M.Pd. Ia menegaskan bahwa keberhasilan komunikasi eksternal bermula dari atmosfer kerja internal yang sehat. Pimpinan humas harus mampu merangkul tim lintas generasi untuk mengakomodasi ide kreatif media sosial serta sigap dalam manajemen krisis.

​”Humas Kampus Putih adalah tameng sekaligus wajah terdepan dari sebuah kampus. Ciptakan suasana kerja yang suportif dan humanis agar pesan yang keluar ke ruang publik tetap menyejukkan, terkendali, serta selaras dengan kebutuhan zaman,” paparnya.

​Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, S.E., M.Si., merefleksikan makna esensial komunikasi publik perguruan tinggi. Ia menilai akar kesalahpahaman informasi kerap bersumber dari ketidakselarasan frekuensi penyampaian pesan.

​Oleh karena itu, penguatan etika kehumasan menjadi senjata utama bagi kampus untuk menyampaikan keunggulannya secara elegan di tengah gempuran informasi masa kini.

​”Menyampaikan kebenaran atau keunggulan perguruan tinggi harus dibarengi dengan strategi komunikasi dan etika yang tepat. Dengan begitu, pesan kebaikan tersebut tidak menjadi pahit dan bisa diterima utuh oleh masyarakat,” pungkas Nazaruddin.

​Melalui sinergi di forum regional ini, para praktisi humas PTS di bawah LLDIKTI Wilayah VII diharapkan tidak hanya berhenti pada diskusi seremonial. Lebih dari itu, mereka dituntut terus berinovasi dalam merawat reputasi institusi, membangun kepercayaan publik yang autentik, serta memberi kontribusi nyata bagi kemajuan pendidikan nasional.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *