Mahasiswa FTAB UB mengajak warga Kotalama memanfaatkan limbah minya jelantah
Kota Malang, Bhirawa
Permasalahan limbah organik dan minyak goreng bekas (jelantah) yang kerap menjadi pemicu pencemaran lingkungan di kawasan perkotaan terus dicarikan solusi. Guna menekan dampak buruk tersebut, Kelompok 28 Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) merangkul warga Kelurahan Kotalama, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang untuk mengolah limbah menjadi barang bernilai ekonomis.
Melalui kegiatan edukasi dan pendampingan yang dipusatkan di Balai RW 03 Kelurahan Kotalama, para mahasiswa mengenalkan konsep ekonomi sirkular serta penanganan sampah berkelanjutan. Kegiatan ini juga dikawal langsung oleh Dosen Pembimbing Tunjung Mahatmanto, STP., M.Si., Ph.D. dan Hendrix Yulis Setyawan, S.T.P., M.Si., Ph.D.
Dosen Pembimbing FTAB UB, Hendrix Yulis Setyawan, Ph.D. menjelaskan, fokus utama dari program pemberdayaan ini adalah memberikan pemahaman mengenai bahaya penggunaan minyak jelantah berulang bagi kesehatan serta risikonya jika dibuang sembarangan ke lingkungan.
”Selain sosialisasi bahaya jelantah, masyarakat juga diajarkan mengolah minyak bekas tersebut menjadi produk bernilai ekonomis seperti lilin aromaterapi. Edukasi ini diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus mendorong terciptanya ekonomi sirkular berbasis rumah tangga,” ujar Hendrix.
Selain penanganan limbah cair, warga juga dibekali materi terintegrasi mengenai pemilahan sampah rumah tangga, pemanfaatan air lindi menjadi pupuk hidroponik, hingga pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari kasgot dan air cucian beras. Tak hanya itu, warga dilatih melakukan manajemen lingkungan budidaya maggot agar tidak menimbulkan bau, pemanfaatan maggot untuk pakan ikan, pengemasan produk, hingga strategi pemasaran digital melalui media sosial.
Puncak dari rangkaian kegiatan ini ditandai dengan demonstrasi penggunaan alat inovasi bernama SOLID (Shredding Organic Litter with Integrated Dewatering). Teknologi Tepat Guna (TTG) ini mampu mencacah sekaligus mengurangi kadar air pada sampah organik sebelum diolah menjadi pakan maggot, sehingga mempercepat proses biokonversi.
Inovasi tersebut juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) serta poin 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab).
Aksi nyata civitas akademika UB ini mendapat apresiasi positif dari pihak Kelurahan Kotalama. Perwakilan kelurahan menyampaikan rasa terima kasihnya karena warga tidak hanya mendapatkan edukasi teori, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat menunjang perekonomian warga.
Pihak kelurahan berharap kolaborasi dengan kampus UB tidak berhenti pada kegiatan ini saja, melainkan dapat berlanjut secara berkesinambungan demi meningkatkan kesejahteraan dan kualitas lingkungan warga Kotalama.mut






