Malang, Bhirawa — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman Hj Lilik, Plaosan Barat, Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Minggu 6/9, menjadi momentum spesial. Kegiatan yang dihadiri 120 jamaah perempuan ini berhasil menyatukan dan mempererat tali silaturahmi dua kelompok majelis, yakni Jamaah Nurunnisa dan Jamaah Nurul Iman.
Dalam acara tersebut, Ustadz Mahfuddin Badjuri hadir memberikan tausiyah. Tausiyah yang biasanya berlangsung 45 menit hingga satu jam, kali ini memikat perhatian jamaah hingga berlangsung hampir dua jam tanpa mengurangi antusiasme peserta.
“Alhamdulillah, sangat menyenangkan melihat antusiasme ibu-ibu. Biasanya saya mengisi tausiyah paling lama 45 menit sampai satu jam. Tetapi kali ini hampir dua jam dan alhamdulillah tidak ada yang mengantuk,” ujar Ustadz Mahfuddin.
Ia menegaskan bahwa peran perempuan sangat strategis sebagai penggerak keluarga maupun lingkungan masyarakat. Melalui kajian, doa, zikir, dan selawat, majelis ilmu menjadi pondasi penting untuk mewujudkan masyarakat yang makmur serta penuh keberkahan.
Lima Amalan Utama yang Perlu Dijaga
Dalam ceramahnya, Ustadz Mahfuddin menyampaikan lima amalan penting yang patut dijaga oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari:
Menjaga Salat Lima Waktu: Tidak hanya salat wajib, tetapi juga mengutamakannya secara berjamaah serta melengkapi dengan salat sunnah qabliyah dan ba’diyah.
Memperbanyak Membaca Al-Qur’an: Menjadikan Al-Qur’an sebagai bacaan harian dan pedoman hidup.
Memperbanyak Zikir dan Selawat: Amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah SAW.
Memperbanyak Thalabul Ilmi: Menuntut ilmu agama secara konsisten. Beliau menganjurkan jamaah hadir di majelis ilmu minimal seminggu sekali agar hati tetap hidup.
Menjaga Silaturahmi: Mempererat hubungan baik dengan tetangga, kerabat, dan keluarga besar guna mendatangkan kebahagiaan serta keberkahan.
Keseimbangan Hablum Minallah dan Hablum Minannas
Ustadz Mahfuddin juga menekankan pentingnya menjaga keseimbangan hubungan dengan Allah (hablum minallah) dan hubungan sesama manusia (hablum minannas). Menurutnya, kesadaran agama yang baik akan melahirkan kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat.
Di akhir tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan moral dalam bahasa Jawa agar para jamaah senantiasa memiliki keyakinan teguh kepada Sang Pencipta.
“Dadio menungso sing atine apik, ojo mamang Gusti Allah (Jadilah manusia yang hatinya baik, jangan ragu kepada Allah SWT),” pesannya.
Melalui penguatan amalan harian dan silaturahmi antarjamaah ini, diharapkan dapat terwujud kehidupan masyarakat yang religius, rukun, serta penuh keberkahan menuju baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.mut






