Aeronautika Brawijaya Raih Poin Penuh di KRTI 2026, Siap Menuju IKN

Kota Malang, Bhirawa-Tim Aeronautika Brawijaya dari Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (UB) sukses menuntaskan seluruh misi drone penyelamat dengan nilai sempurna (full point) pada seleksi wilayah Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. Didampingi dosen pembimbing Cries Avian ST MT PhD, tim tampil impresif dalam ajang daring yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi pada akhir pekan ini.

​Pada tahap seleksi wilayah tahun ini, sebanyak 51 perguruan tinggi dari berbagai daerah mengikuti kompetisi yang terbagi dalam dua hari pelaksanaan. Dari seluruh peserta tersebut, akan dipilih 16 tim terbaik untuk melaju ke tahap berikutnya yang akan dilaksanakan di Ibu Kota Nusantara (IKN).

Baca Juga :Mahasiswa UB Edukasi Kesehatan Mental dan Stigma Gender di Malang

​Tim Aeronautika Brawijaya mengusung konsep drone penyelamat dengan formasi tim inti Alexander Stormy Bramantyo (elektrikal), Alfi Sayfullah (software), dan Arjunadinata Richie Romeo Hadi (mekanikal). Tim ini juga didukung Muhammad Fadhil Qutrunnada sebagai pilot sekaligus bagian elektrikal, serta Devint Nehal Dhahiri (software) dan Fidel Christian Supeno (mekanikal) sebagai pit crew.

​Dalam misi yang diberikan, robot terbang diminta untuk membawa dan menjatuhkan medical kit ke dalam kotak yang telah disediakan. Drone juga harus melewati lintasan berupa lorong atau gate tanpa menggunakan GPS sebagai navigasi utama. Keberhasilan tim dinilai berdasarkan kemampuan menyelesaikan setiap misi, ketepatan menjatuhkan medical kit, serta waktu penyelesaian.

​Pilot drone Tim Aeronautika Brawijaya, Muhammad Fadhil Qutrunada, mengungkapkan bahwa kendala utama berasal dari faktor cuaca dan angin kencang yang memengaruhi stabilitas drone. Namun, kondisi tersebut berhasil diantisipasi melalui serangkaian uji coba teknis beberapa hari sebelum seleksi.

​“Kendalanya lebih banyak dari eksternal, seperti cuaca dan angin yang cukup kencang sehingga membuat drone tidak stabil. Tapi berkat kerja keras tim dari hari-hari sebelumnya, kami sudah melakukan uji coba untuk mengantisipasi hal tersebut dengan menggunakan metode-metode yang berbeda dan terbukti akurat,” jelas Fadhil.

​Upaya tersebut membuahkan hasil positif dengan raihan nilai full point dan catatan waktu kilat 55 detik. Performa tangguh drone tersebut didukung integrasi berbagai teknologi mutakhir.

​Alexander Stormy Bramantyo menambahkan, drone dilengkapi LiDAR untuk mengukur jarak dengan tanah, optical flow untuk mendeteksi pergerakan tekstur permukaan, barometer untuk memantau ketinggian berdasarkan tekanan udara, serta kamera depan (front vision) untuk memindai warna pada gate.

​Meski hasil resmi pengumuman tim yang lolos ke IKN belum dikeluarkan oleh panitia pusat, seluruh anggota tim merasa optimis mampu melangkah ke babak selanjutnya.

​“Belum ada pengumuman lanjutan. Tapi kita optimis buat di sana,” pungkas Alex.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *