Malang, Bhirawa — Asosiasi Perajin Batik Kota Malang mematangkan identitas motif baru bernama Sekar Jagad Panca Warna melalui seminar naskah akademik di Pinoa Cafe and Space, Sabtu (19/9/2026). Forum ini melibatkan perajin, peneliti, akademisi, Diskoperindag, hingga Dekranasda Kota Malang guna menyusun dasar filosofis, sosiologis, dan hukum motif tersebut.
Ketua Asosiasi Perajin Batik Kota Malang, Isa Wahyudi (Ki Demang), menerangkan bahwa motif ini merefleksikan keberagaman lima kecamatan di Kota Malang dalam satu kesatuan visual layaknya peta dunia (kar jagad).
Ciri khas motif dirancang melalui dua elemen utama:
Panca warna: Menggunakan warna hijau, merah, hitam, kuning, dan biru yang mengadopsi filosofi tradisi bubur panca warna (ritual selamatan masyarakat Jawa).
Isen-isen toponimi: Mengangkat flora lokal yang berakar dari sejarah penamaan wilayah di tiap kecamatan.
Ketua Dekranasda Kota Malang, Nabilla Febrina Dersanala, menegaskan dukungannya untuk segera mendaftarkan motif ini ke Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) agar memiliki dasar legalitas yang kuat dan diakui secara luas.
Dari sisi industri, Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Kota Malang, Dian Likos Amalia, menyebut motif anyar ini memperkuat ekosistem tiga sentra batik yang sudah dibina, yakni Sentra Batik Bunul, Sukun, dan Sawojajar, sehingga masyarakat memiliki rujukan visual khas Malang.
Sementara itu, peneliti batik Universitas Brawijaya, Fitriana Puspita Dewi, mengingatkan pentingnya aspek komersial dan adaptasi tren kontemporer agar narasi filosofis batik tetap seimbang dengan harga yang terjangkau pasar.
Motif Sekar Jagad Panca Warna dijadwalkan meluncur secara resmi (launching) kepada publik pada ajang Festival Batik Kota Malang, 4 Oktober 2026, di Alun-Alun Malang.mut












