Bikin Bangga Mendiang Ayah, Yuniar Faizati Jadi Lulusan Terbaik FTI ITN Malang lewat Skripsi AI & Perawatan Mesin

Kota Malang, Bhirawa– Rasa haru tak bisa disembunyikan Yuniar Faizati saat namanya tercatat sebagai lulusan terbaik Fakultas Teknologi Industri (FTI) sekaligus Prodi Teknik Industri S-1 pada Wisuda ke-76 Periode II Tahun 2026, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Meraih IPK hampir sempurna—3,93—mahasiswi asal Singaraja, Bali ini menuntaskan kuliahnya lewat perjuangan emosional yang tidak mudah.

​Langkah Yuniar sempat goyah saat sang ayah, Jarkoni, wafat pada 1 Juni 2026 akibat penyakit jantung, tepat sebulan sebelum ia menjalani seminar hasil skripsi. Almarhum yang sehari-hari berjualan martabak dan terang bulan selalu bermimpi melihat anaknya mengecap pendidikan tinggi.

​”Alhamdulillah, perasaan saya bahagia, tapi di balik itu ada rasa haru dan sedih yang dalam. Prestasi ini sangat emosional karena sejujurnya ada masa di mana saya hampir memilih berhenti kuliah dan kerja saja. Kehilangan ayah sebulan sebelum seminar hasil jadi ujian terberat, tapi saya percaya Allah yang memberi kekuatan untuk menyelesaikan ini semua,” ungkap Yuniar.

​Ia mengenang, almarhum ayahnya sangat bangga ketika tahu putri bungsunya dari lima bersaudara ini akan segera meraih gelar sarjana. “Ayah itu tidak sempat sekolah tinggi, jadi beliau ingin sekali anak-anaknya bisa sarjana. Waktu Idulfitri kemarin masih sempat bertemu, dan Ayah bilang bangga sekali saya mau wisuda. Saya tidak menyangka itu jadi momen terakhir kami,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

​Dorongan kuat dari ibunya, Siti Hayati, serta para dosen di Teknik Industri akhirnya membuat Yuniar bangkit untuk menyelesaikan studinya.

​Andalkan AI Google Studio dan Metode RCM untuk Meminimalkan Downtime Pabrik

​Keberhasilan Yuniar tak hanya soal angka IPK. Skripsinya yang mengulas Analisis Downtime Mesin Fiber Semen (FS) 8 Sebagai Dasar Penentuan Interval dan Teknikal Maintenance di PT Nusantara Building Industries berhasil memberikan solusi nyata bagi industri manufaktur.

​Di bawah bimbingan Dr. Ir. Nelly Budiharti, M.S.I.E. dan Drs. Soemanto, S.Pd., M.Si., Yuniar meneliti penyebab tingginya waktu henti mesin (downtime) akibat kerusakan komponen selama periode 2025. Menggabungkan metode Reliability Centered Maintenance (RCM) dan Age Replacement, ia bahkan memanfaatkan teknologi AI Google Studio untuk memvisualisasikan alur produksi mesin semen.

​”Tantangannya harus paham karakter lima mesin produksi satu per satu, padahal saya bukan anak Teknik Mesin. Dari analisis, didapatkan interval perawatan pencegahan (preventif) di angka 2.000 menit dengan peluang downtime hanya 0,13 atau 13%. Angka ini tergolong rendah dan efektif menekan kerusakan,” terangnya yang akan ikut diwisuda pada 19 September 2026 mendatang.

​Pengalaman riset ini makin melengkapi rekam jejak akademisnya. Selama berkuliah, Yuniar sempat mengikuti Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) ke Manado, aktif berorganisasi selama dua periode di Himpunan Mahasiswa Teknik Industri (HMTI), menjadi editor di Industrial Magazine, hingga menjalani magang di PT Nusantara Building Industries, Demak.

​”Dari pengalaman magang di divisi maintenance maupun marketing communication, saya sadar ilmu Teknik Industri itu luas sekali. Seorang Industrial Engineer bukan hanya mengoptimalkan mesin, tapi paham bagaimana seluruh sistem terhubung, mulai dari manusia, teknologi, hingga kebutuhan bisnis,” tambahnya.

​Buka Aplikasi Notion Usai Subuh dan Terapkan Ilmu Padi

​Saat ditanya rahasia konsistensinya membagi waktu antara organisasi, praktikum, dan kuliah, Yuniar mengaku tidak punya jurus rahasia selain disiplin dan doa.

​”Setiap habis Subuh saya usahakan tidak tidur lagi. Saya selalu buka aplikasi Notion buat menyusun skala prioritas, mana tenggat waktu yang paling dekat dan tugas mana yang paling ringan untuk diselesaikan duluan. Kalau ada tugas, kerjakan totalitas, jangan ala kadarnya,” tutur alumnus SMAN 1 Singaraja tersebut.

​Kini, Yuniar siap melangkah ke dunia kerja profesional di bidang marketing analyst dan supply chain. Kepada adik-adik tingkatnya di FTI ITN Malang, ia berpesan untuk tetap fokus pada proses diri sendiri tanpa perlu membandingkan diri dengan orang lain.

​”Sembunyikan prosesmu, fokus sama diri sendiri, dan terapkan ilmu padi. Fokus bukan berarti kehilangan empati, simpati, atau sosial, tapi mengesampingkan kata-kata yang tidak membangun. Percayalah pada prosesmu sendiri, karena setiap orang punya waktunya masing-masing untuk berhasil,” pungkasnya.mut

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *