Laboratorium Sensori) berstandar internasional untuk Program Studi Teknologi Pangan
Kota Malang, Bhirawa
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) resmi membuka fasilitas Sensory Laboratory (Laboratorium Sensori) berstandar internasional untuk Program Studi Teknologi Pangan, Rabu (8/7). Berlokasi di kawasan Edupark UMM, fasilitas mutakhir hasil kolaborasi internasional dalam VLIR-UOS Team Project ini hadir sebagai solusi konkret untuk meningkatkan daya saing produk makanan dan minuman Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal di pasar global.
Peresmian laboratorium ini dihadiri langsung oleh mitra internasional dari tiga negara, yakni Belgia, Ekuador, dan Filipina, serta berbagai institusi riset rekanan Kampus Putih. Kehadiran fasilitas ini diharapkan mampu menjawab tantangan nyata industri pangan saat ini, di mana banyak pelaku usaha lokal mampu memproduksi makanan bercita rasa baik, namun masih kesulitan mengakses uji sensori ilmiah yang valid sebelum melempar produk ke pasar.
Penanggung jawab Laboratorium Sensorik UMM, Dahlia Elianarni, S.TP., M.Sc., menjelaskan bahwa fasilitas ini sengaja dirancang untuk menjembatani kebutuhan dunia akademik dan industri praktis. Melalui laboratorium ini, mahasiswa dapat mempraktikkan metode pengujian berstandar global, sementara masyarakat serta pelaku UMKM mendapatkan kemudahan akses layanan pengujian yang selama ini tergolong terbatas.
”Seluruh fasilitas dirancang mengikuti standar internasional sehingga mahasiswa kami dapat melakukan pengujian dengan prosedur yang setara dengan laboratorium di luar negeri. Kami juga membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat dan pelaku usaha yang membutuhkan pengujian sensori agar produk mereka memiliki kualitas yang lebih baik dan sesuai dengan preferensi konsumen,” ujar Dahlia.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UMM, Prof. Dr. Muhamad Salis Yuniardi, S.Psi., M.Psi., Ph.D., Psikolog, menegaskan bahwa laboratorium ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat inovasi dan kolaborasi riset internasional. Ke depan, fasilitas ini akan difokuskan untuk mendukung pengembangan komoditas unggulan Indonesia, salah satunya adalah cokelat (cocoa bean).
”Indonesia memiliki potensi besar pada komoditas cocoa bean, namun daya saingnya di kancah internasional perlu terus ditingkatkan melalui riset. Sensory Laboratory ini menjadi langkah strategis kami untuk mendukung pengembangan kakao serta berbagai produk pangan nusantara agar nilainya terdongkrak di pasar dunia,” tegas Prof. Salis.
Fasilitas baru ini nantinya akan terus diintegrasikan sebagai bagian dari pengembangan kawasan Edupark UMM, termasuk menyokong Center of Excellence (CoE) Kakao. Melalui sinergi erat antara sektor pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat, UMM optimistis laboratorium ini mampu melahirkan inovasi pangan berkelanjutan sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi kesejahteraan industri lokal.











