Dosen FTAB UB dan PLUT Kota Batu Bangun Sistem Kendali Mutu UMKM Keripik Tempe

Kota Batu, Bhirawa-Komitmen perguruan tinggi dalam mendukung keberlanjutan usaha mikro di daerah terus diwujudkan secara nyata. Melalui program Dosen Berkarya (DOKAR) Tahun 2026, Tim Dosen Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) menggandeng Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT KUMKM) Kota Batu untuk mendampingi UMKM Fauzi Keripik Tempe dalam membangun sistem pengendalian mutu produksi yang terstandar.

​Kolaborasi yang berlangsung sejak Juni hingga November 2026 ini berada di bawah naungan Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu. Tim FTAB UB diketuai oleh Sakunda Anggarini, STP., MP., M.Sc., Ph.D., beranggotakan Prof. Imam Santoso dan Prof. Sri Suhartini, serta didampingi langsung oleh Ketua PLUT KUMKM Kota Batu, Yossi Hendrawan Saraswanto, ST.

​UMKM Fauzi Keripik Tempe milik Susi Fauziah yang berlokasi di Kelurahan Junggo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, telah berdiri sejak tahun 2000. Usaha ini memproduksi keripik tempe aneka rasa yang menjadi salah satu oleh-oleh khas Kota Batu sekaligus menyerap tenaga kerja lokal, khususnya kalangan ibu rumah tangga.

​Ketua Tim DOKAR FTAB UB, Sakunda Anggarini, mengungkapkan bahwa pemetaan awal menunjukkan pencatatan mutu pada usaha ini belum terdokumentasi secara sistematis. Aturan produksi selama ini masih disampaikan secara lisan, sehingga konsistensi mutu antar-batch produksi kerap menghadapi tantangan.

​”Pemilik menyampaikan harapan agar produk memiliki masa simpan lebih panjang demi memenuhi permintaan 32 gerai ritel modern di Kota Batu. Hasil observasi kami memetakan bahwa tahap pemotongan dan penggorengan merupakan titik kritis yang menentukan kerenyahan, warna, dan kadar minyak,” terang Sakunda.

​Sakunda menegaskan, pendampingan ini tidak mengubah formula resep warisan usaha, melainkan membukukan praktik baik yang selama ini sudah berjalan.

​”Kami menyusun aturan lisan tersebut menjadi dokumen mutu agar siapapun pekerjanya, standar produk tetap konsisten. Pendekatan kami menitikberatkan pada sistem yang sederhana dan aplikatif untuk skala usaha mikro,” imbuhnya.

​Dari program ini, tim menghadirkan tiga luaran konkret. Pertama, Buku Pedoman Mutu dan Pengendalian Proses Produksi yang mencakup spesifikasi produk, standar bahan baku, Standar Operasional Prosedur (SOP), hingga formulir audit mutu harian.

​Kedua, dua format dashboard berbasis Microsoft Excel, yakni Dashboard Mutu untuk memantau produk cacat (gosong, remah, atau ketebalan tidak seragam), serta Dashboard Ritel untuk mencatat riwayat distribusi di 32 gerai mitra. Melalui dashboard ritel, pemilik dapat mendeteksi gerai yang pasif memesan guna memantau kelayakan produk di display penjualan.

​Ketiga, inovasi tepat guna berupa modifikasi alat peniris minyak (spinner). Tim menambahkan keranjang berdimensi lebih kecil di dalam spinner eksisting guna memperpendek jarak lempar keripik saat berputar. Hasilnya, kadar minyak pascagoreng berkurang drastis tanpa merusak keutuhan keripik yang renyah dan rapuh.

​Pemilik usaha, Susi Fauziah, mengaku pendampingan ini memberi dampak langsung pada efisiensi operasional harian di rumah produksinya.

​”Sekarang sudah ada buku panduan tertulis, karyawan baru bisa langsung belajar mandiri. Catatan dashboard juga memudahkan saya memantau stok di toko-toko mitra. Modifikasi spinner sangat membantu, minyak berkurang banyak dan keripik tidak hancur,” tutur Susi.

​Langkah kolaboratif lintas sektor ini sekaligus mengimplementasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), mencakup SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). mut’

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *