Dosen HI UMM Terbitkan Buku Riset Kerja Sama Maritim RI–Korsel

Malang,Bhirawa- Tim peneliti Program Studi Hubungan Internasional (HI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengkaji peluang penguatan jaringan kemitraan kelautan antara Indonesia dan Korea Selatan lewat pendekatan paradiplomasi maritim (maritime paradiplomacy). Kajian yang didukung pendanaan 2025 KF Policy Research Grant dari Korea Foundation tersebut resmi dibukukan dengan tajuk Archipelago Meets Peninsula: Building a Regional Maritime Paradiplomacy Network between Indonesia and South Korea, diterbitkan oleh Penerbit UMM.

​Riset ini dipimpin oleh Tonny Dian Effendi bersama Havidz Ageng Prakoso, Shannaz Mutiara Deniar, dan Hamdan Nafiatur Rosyida. Kajian tersebut menyoroti arti strategis pemerintah daerah, kota pelabuhan, otoritas pelabuhan, hingga institusi lokal dalam membangun kemitraan lintas batas, sehingga kerja sama bilateral tidak melulu bertumpu pada hubungan antarpemerintah pusat.

​Peneliti tim, Hamdan Nafiatur Rosyida, memaparkan bahwa pendekatan paradiplomasi maritim membuka ruang agar kolaborasi kedua negara lebih menyentuh kebutuhan riil di daerah pesisir.

​”Melalui pendekatan paradiplomasi maritim, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan dapat dibangun lebih dekat dengan kebutuhan daerah. Potensi pelabuhan, perikanan, ekonomi biru, dan pariwisata bahari bisa menjadi pintu masuk untuk mengembangkan kolaborasi yang saling melengkapi,” tutur Hamdan.

​Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, dalam kata pengantarnya menegaskan pergeseran dinamika hubungan internasional saat ini. Aktor lokal seperti kota, pelabuhan, dan komunitas terbukti mengambil peran penting dalam jejaring global. Perguruan tinggi dinilai memegang mandat krusial guna menjembatani produk riset dengan implementasi kebijakan melalui ruang dialog ilmiah dan pertukaran akademik.

​Sebelum diterbitkan, proses penyusunan buku ini melewati lokakarya kolaboratif pada Januari 2026 yang mempertemukan para akademisi dari Indonesia dan Korea Selatan guna merumuskan perspektif bersama.

​Fokus pembahasan dalam buku merinci peluang konkret, seperti penjajakan hubungan Pelabuhan Busan dengan kota-kota pelabuhan di Jawa Timur, potensi di Probolinggo dan Kalimantan Timur, ekonomi biru, pariwisata bahari, hingga perlindungan nelayan migran. Sinergi ini memadukan potensi kekayaan laut serta luas konektivitas antarpulau Indonesia dengan keunggulan teknologi, industri, dan manajemen pelabuhan milik Korea Selatan.

​Melalui kemitraan Prodi HI UMM dan Center for East Asia Studies, buku ini disiapkan sebagai rujukan bagi akademisi, pengambil kebijakan, pemerintah daerah, serta otoritas pengelola pelabuhan dalam merealisasikan kerja sama konkret antarkota maupun antarpelabuhan (port-to-port).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *