Gelar Kuliah Umum FBiPK UB, Prof Jafar Hafsah Tekankan Hilirisasi dan Ketahanan Pangan di Era Ketidakpastian

Malang, Bhirawa-Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB) menggelar kuliah umum bertajuk “Pertanian di Era Ketidakpastian: Climate Change, Geopolitics and Food Security” di Ruang Pertemuan GS. 1.1, Jumat (18/9). Agenda ini menghadirkan Guru Besar Bidang Agribisnis Pangan, Prof Dr Ir H Mohammad Jafar Hafsah IPU APEC Eng ASEAN Eng.

​Dekan FBiPK UB, Prof M Purnomo SP MSi PhD, saat membuka acara menegaskan pentingnya wadah ini untuk merespons dinamika sektor pertanian yang terus berubah. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya bergantung pada teori akademik di kelas, tetapi juga mengasah soft skill melalui organisasi.

​“Ilmu jangan hanya diperoleh dari ruang kuliah. Mahasiswa juga harus aktif dalam organisasi karena dari sana dibentuk kemampuan komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, dan kepekaan terhadap persoalan masyarakat,” ujar Purnomo.

​Dalam pemaparannya, Prof Jafar Hafsah menyoroti kompleksitas tantangan pertanian global yang dipicu perubahan iklim, dinamika geopolitik, hingga volatilitas pasar. Menurutnya, konflik geopolitik terbukti mengganggu rantai pasok pupuk, energi, dan pangan global. Hal ini diperparah cuaca ekstrem yang memicu kekeringan maupun banjir di tingkat lokal.

​Guna menghadapi tekanan tersebut, Prof Jafar mendorong pembangunan pertanian nasional bergeser dari pola reaktif krisis menuju sistem antisipatif berbasis data. Pemanfaatan digital agriculture seperti penggunaan sensor, drone, artificial intelligence (AI), serta penerapan ekonomi sirkular menjadi kunci efisiensi.

​Selain faktor teknologi, Prof Jafar menggarisbawahi pentingnya strategi hilirisasi produk pertanian di dalam negeri. Langkah ini krusial agar Indonesia tak sekadar mengekspor bahan mentah dengan nilai ekonomi rendah.

​“Ketidakpastian itu takdir. Nilai tambah itu pilihan. Hilirisasi adalah jalan,” tegas Prof Jafar di hadapan para peserta.

​Kepada para generasi muda dan petani milenial, ia berpesan agar penguasaan intelektual turut diimbangi dengan etika, ketangguhan fisik, dan pengalaman sosial di lapangan. Kombinasi ilmu agronomi, adopsi teknologi, kebijakan yang tepat, serta karakter SDM yang kuat dinilai bakal menjadi benteng utama ketahanan pangan Indonesia di tengah ketidakpastian global.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *