Dr. Kiki Gustinasari
Kota Malang, Bhirawa
Fakultas Teknologi Pertanian dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) resmi meluncurkan program Waste Weighing System (sistem penimbangan sampah) di seluruh lingkungan fakultas. Langkah inovatif ini diambil sebagai komitmen nyata dalam mewujudkan Smart Green Campus sekaligus mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 12, yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Melalui sistem baru ini, setiap hari seluruh sampah di lingkungan FTAB UB akan dipilah dan ditimbang berdasarkan empat kategori utama: organik, anorganik, Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), serta residu. Proses ini dilakukan untuk mendapatkan data volume limbah secara akurat dan transparan.
Ketua Tim Smart Green Campus FTAB UB, Dr. Kiki Gustinasari menjelaskan bahwa selama ini pihak fakultas belum memiliki data dasar (baseline) yang valid terkait volume dan jenis limbah yang dihasilkan setiap harinya.
”Kalau tidak ditimbang dan dipilah, kita tidak tahu sumber limbah terbesarnya dari mana. Dengan sistem ini, setiap bulan kami bisa melihat trennya. Target kami jelas, total limbah harus turun tiap bulan,” ujar Dr. Kiki saat dikonfirmasi, Kamis (2/7).
- Ia menambahkan, data hasil penimbangan tersebut nantinya akan diintegrasikan langsung ke dalam laporan Smart Green Campus FTAB yang dapat diakses oleh jajaran pimpinan serta seluruh civitas akademika secara transparan.
Guna memastikan target penurunan limbah bulanan tercapai, FTAB UB tidak hanya melakukan penimbangan, melainkan juga mengkolaborasikannya dengan tiga strategi taktis:
• Reduce (Pengurangan): Menggalakkan edukasi gerakan tanpa kertas (paperless), menekan penggunaan plastik sekali pakai, serta mewajibkan penggunaan wadah guna ulang di area kantin fakultas.
• Reuse (Pemanfaatan Kembali): Mengolah sampah organik menjadi pupuk kompos yang dimanfaatkan langsung untuk kebutuhan kebun praktik mahasiswa.
• Recycle (Daur Ulang): Menjalin kerja sama dengan bank sampah universitas untuk menyalurkan sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi.
Dr. Kiki menegaskan bahwa implementasi SDGs 12 ini bukan sekadar mengejar target formalitas di tingkat nasional, melainkan upaya membangun budaya baru di lingkungan kampus.
”Di level fakultas, ini dimulai dari hal sederhana: tahu berapa sampah yang kita hasilkan, lalu menguranginya bersama-sama. Ini adalah budaya yang berkelanjutan, bukan proyek sesaat,” tegasnya.
Melalui program Waste Weighing System yang terukur dan transparan ini, FTAB UB membidik posisi sebagai role model (percontohan) dalam pengelolaan limbah kampus yang berkelanjutan di lingkungan Universitas Brawijaya maupun di tingkat nasional.mut








