Sistem filtrasi khusus untuk menetralkan limbah asam dari lemari asam laboratorium
Kota Malang, Bhirawa
Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB) mencatatkan sejarah baru di lingkungan kampus. FTAB resmi menjadi fakultas pertama di UB yang mengoperasikan sistem filtrasi khusus untuk menetralkan limbah asam dari lemari asam laboratorium sebelum dilepaskan ke lingkungan bebas.
Langkah progresif ini merupakan wujud nyata komitmen FTAB UB dalam mendukung terciptanya Smart Green Campus. Selain itu, inovasi ini menjadi sokongan kuat terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin 6 mengenai Air Bersih dan Sanitasi Layak, serta poin 12 terkait Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.
Selama ini, aktivitas laboratorium yang menggunakan bahan kimia berisiko menyisakan uap dan sisa asam yang berpotensi mencemari udara serta saluran air. Mengantisipasi hal tersebut, FTAB UB memasang filter khusus pada seluruh lemari asamnya. Sistem ini bekerja menyerap dan mengurai senyawa asam berbahaya, lalu menetralkannya menggunakan larutan basa hingga dipastikan memenuhi baku mutu lingkungan yang aman.
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.T.P., M.App.Life.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa keselamatan dan kelestarian lingkungan merupakan prioritas utama dalam setiap riset yang bertanggung jawab.
”Laboratorium harus menjadi pusat inovasi, namun tidak boleh meninggalkan jejak pencemaran. Dengan adanya filter ini, limbah asam tidak akan langsung terbuang ke alam. Ini adalah yang pertama di UB dan kami berharap inovasi ini bisa menjadi standar baru bagi laboratorium lain,” ujar Prof. Yusuf, Jumat (3/7).
Sistem filtrasi anyar ini juga dirancang modern karena telah terintegrasi dengan monitoring digital khas Smart Green Campus. Melalui sistem tersebut, data performa filter, jadwal penggantian karbon aktif, hingga hasil uji kualitas udara dapat dipantau secara berkala dan real-time demi menjamin efektivitas alat.
Tidak hanya berfokus pada kecanggihan teknologi, FTAB UB turut memperkuat edukasi “laboratorium hijau” kepada mahasiswa dan tenaga laboran. Mereka diwajibkan menerapkan praktik efisiensi bahan kimia, mematuhi prosedur pembuangan yang aman, serta mengikuti audit limbah secara periodik.
”Komitmen green campus itu baru berwujud nyata jika dimulai dari laboratorium. Langkah ini mungkin terlihat kecil, namun dampaknya sangat besar untuk melindungi kesehatan sivitas akademika, menjaga kualitas air dan udara kampus, serta menjadi contoh tata kelola laboratorium yang berkelanjutan,” pungkas Prof. Yusuf.
Melalui terobosan ini, FTAB UB sukses mengukuhkan posisinya sebagai fakultas pelopor dalam integrasi riset, inovasi, dan keberlanjutan lingkungan di lingkungan UB.mut











