​Guru Besar DKV UM Prof Pujiyanto: Karya Ilustrasi Siswa SMP Jadi Media Persuasif Ampuh Sebaya

Kota Malang, Bhirawa-Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM) resmi mengukuhkan Prof. Dr. Pujiyanto, M.Sn. sebagai Guru Besar dalam Bidang Desain Komunikasi Visual (DKV) dengan kepakaran Desain Media Persuasif. Prosesi pengukuhan jabatan akademik tertinggi tersebut berlangsung secara khidmat di lingkungan kampus UM, Rabu 7/10.

​Dalam pidato pengukuhannya yang mengangkat tajuk “Kreativitas Generasi Z: Metafora Karya Ilustrasi Hasil Ajang Talenta Nasional sebagai Media Persuasif pada Anak Sebayanya”, Prof. Pujiyanto membedah secara mendalam bagaimana karya visual Generasi Z memiliki kekuatan komunikasi persuasif yang sangat efektif bagi kelompok usianya.

​Menurutnya, ilustrasi pada era digital saat ini telah bertransformasi bukan lagi sekadar pelengkap cerita bergambar atau karya seni visual pajangan, melainkan bagian integral dari unsur desain yang mampu menyampaikan dan memperjelas pesan verbal secara tajam menembus batasan ruang dan waktu.

​”Ketika karya ilustrasi sebagai media persuasif dirancang langsung oleh anak-anak Generasi Z—terutama pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) rentang usia 13 hingga 15 tahun—karya tersebut memiliki kedekatan psikologis dan karakter yang sangat kuat bagi teman sebayanya,” tutur Prof. Pujiyanto.

​Ia menjelaskan, daya tarik karya generasi muda ini terlihat jelas dari pemilihan tema yang aktual, penggambaran objek, pemilihan palet warna, hingga kematangan teknik pengerjaannya. Karya-karya tersebut kerap mengangkat isu hangat di masyarakat dengan objek ekspresi anak yang ceria dan dinamis saat menari, bermusik, melukis, maupun berolahraga.

​Secara visual, karya mereka didominasi paduan warna lembut dan cerah seperti biru muda dan jingga yang mencerminkan karakter anak. Pemanfaatan perangkat komputer grafis juga membuat goresan garis dan bidang menjadi tegas, kuat, dan presisi. Bahkan, sentuhan gaya grunge layout yang bebas dan padat memberi nuansa keberanian berekspresi sekaligus memantik daya cipta teman-temannya.

​Lebih jauh, Prof. Pujiyanto mengungkapkan temuan menarik terkait semiotika metafora kebangsaan dan dorongan berprestasi yang tercermin dalam karya para siswa. Terdapat empat metafora utama yang berhasil ia petakan:

​Tumbuh Jiwa Nasionalis, diwujudkan lewat visual anak-anak menaiki burung Garuda terbang tinggi di angkasa, melambangkan intelektual muda yang bercita-cita luhur membawa nama bangsa.

​Wajah Indonesia, direfleksikan melalui ragam budaya Nusantara seperti rumah adat, tarian, dan busana daerah dari penjuru provinsi.

​Wajah Bersinar Terang, menggambarkan kegembiraan anak dalam beraktivitas demi meraih prestasi yang membanggakan keluarga, sekolah, hingga daerah.

​Memetik Kejuaraan, divisualisasikan lewat atribut piala, medali, serta sertifikat sebagai potret capaian prestasi yang membukakan jalan menuju jenjang pendidikan lebih tinggi.

​Adapun karya-karya yang dikaji tersebut merupakan buah kreativitas peserta ajang talenta bergengsi Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) yang kini bertransformasi menjadi Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Agenda tahunan tersebut diselenggarakan oleh Balai Pengembangan Talenta Indonesia (BPTI) Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI.

​”Data visual dan verbal ini membuktikan secara nyata bahwa generasi muda kita yang tumbuh lekat dengan teknologi tidak hanya menjadi penikmat, tetapi sudah mampu merancang karya ilustrasi persuasif sarat nilai estetika dan pesan moral yang matang layaknya kreator profesional,” pungkasnya.mut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *