Prof. Dr. Agus Suryanto Guru Besar FSTeM
Kota Malang, Bhirawa
Guru Besar Departemen Matematika Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), Prof. Dr. Agus Suryanto menegaskan bahwa Artificial Intelligence (AI) yang saat ini dianggap sebagai teknologi paling mutakhir sejatinya berdiri di atas fondasi matematika. Logika berpikir manusia tidak akan pernah bisa digantikan sepenuhnya oleh kecerdasan buatan tersebut.
”AI itu sebenarnya dibangun oleh matematika. Semuanya berangkat dari algoritma. Bagaimana mencari data dengan cepat, mengelola data, sampai muncul AI itu, semuanya berasal dari matematika,” tegas Prof. Agus Suryanto dalam kegiatan Ngopi Sam FSTeM Kamis 21/5.
Menurutnya, terdapat miskonsepsi publik yang menilai AI sanggup menggusur peran manusia seutuhnya. Padahal, kapabilitas kerja AI pada hakikatnya hanya bertumpu pada replikasi pola dan data yang sudah ada sebelumnya, bukan lahir dari sebuah kesadaran berpikir. Keterbatasan struktural AI akan langsung tampak nyata begitu dihadapkan pada problem atau fenomena baru yang belum memiliki rekam jejak.
”Jika ada problem baru, AI tidak akan mampu mengadakan informasi yang benar-benar baru secara sempurna. AI mungkin bisa menyodorkan jawaban, tetapi belum tentu akurat dan sempurna. Di titik itulah proses berpikir matematis mutlak diperlukan untuk mengonstruksi model baru,” urainya.
Lebih lanjut, ia menggarisbawahi bahwa kekuatan utama matematika terletak pada kemampuannya membentuk pola pikir yang disiplin, runtut, dan sistematis. Kemampuan kognitif inilah yang menjadi garis batas pembeda paling fundamental antara manusia dan mesin.
”Matematika tidak akan pernah tergantikan oleh AI. Bahkan, dengan matematika, kita bisa memajukan kapabilitas AI ke tingkat yang lebih tinggi,” imbuhnya.
Kendati demikian, Prof. Agus memberikan catatan kritis mengenai fenomena pemanfaatan AI di sektor pendidikan yang mulai bergeser menjadi alat pencari jawaban instan bagi para pelajar.
”AI seharusnya diposisikan sebagai jembatan untuk belajar, bukan alat mendapatkan jawaban secara instan. Pengguna harus memahami proses berpikir di baliknya, mampu memverifikasi mana yang sahih dan mana yang keliru,” cetusnya.
Ia menyimpulkan, masa depan bukanlah pertarungan eksistensi antara manusia dan AI, melainkan tentang bagaimana manusia mempertahankan ketajaman berpikir mendalam di tengah kemudahan teknologi.
”Ketika dunia berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar baru, di situlah eksistensi manusia mutlak diperlukan. AI bisa membantu mempercepat, tetapi orisinalitas proses berpikir untuk menciptakan model baru tetap lahir dari rahim pikiran manusia,” pungkasnya.mut










