Inflasi Kota Malang Terjaga di Angka 3,16 Persen, Pakar Ekonomi UM Ingatkan Pelaku Usaha Jaga Margin Laba

Pakar Ekonomi UM Dr. Eka Ananta Sidharta

Kota ​Malang, Bhirawa

Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Malang pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,16 persen secara tahunan (year on year/yoy). Meski angka ini tetap terkendali dalam kisaran sasaran nasional (2,5±1 persen), posisi tersebut dinilai sudah mulai mendekati batas atas target indikator nasional sebesar 3,5 persen.

​Pakar Ekonomi Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Eka Ananta Sidharta, mengingatkan bahwa realita inflasi ini harus dicermati dengan baik dari sisi makro maupun mikro (akuntansi). Dari perspektif makro, kenaikan ini utamanya didorong oleh faktor penawaran seperti penyesuaian harga BBM nonsubsidi, pelemahan nilai tukar Rupiah yang mengerek biaya impor, serta gangguan pasokan komoditas tertentu.

​”Tekanan ini untungnya bersifat sementara karena terkait erat dengan musim liburan sekolah dan siklus panen,” ujar Dr. Eka.

​Namun, dari kacamata akuntansi, Dr. Eka memberikan catatan kritis bagi dunia usaha. Kenaikan harga BBM nonsubsidi dan barang impor di tingkat makro dipastikan berpotensi meningkatkan Harga Pokok Penjualan (HPP), biaya distribusi, nilai persediaan, hingga kebutuhan modal kerja perusahaan.

​”Jika pelaku usaha di Kota Malang tidak mampu menyesuaikan harga jual secara presisi, tekanan inflasi ini akan langsung menjepit margin laba dan mengganggu arus kas operasional mereka,” tegasnya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi, menyebutkan bahwa capaian inflasi Kota Malang sebesar 3,16 persen (yoy) ini bahkan lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi Provinsi Jawa Timur yang berada di angka 3,36 persen (yoy), maupun inflasi nasional sebesar 3,34 persen (yoy).

​”Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), secara bulanan (month to month/mtm), Kota Malang mengalami inflasi sebesar 0,34 persen pada Juni 2026. Kondisi ini mencerminkan perkembangan harga di tingkat domestik tetap terkendali di tengah tekanan regional dan nasional,” jelas Indra. Kenaikan bulanan tersebut utamanya dipicu oleh kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,31 persen (mtm).

​Secara rinci, komoditas utama penyusun inflasi Juni meliputi bensin (andil 0,22 persen) akibat penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Turbo per 10 Juni, bawang merah (andil 0,06 persen) karena imbas sebelum panen raya, serta angkutan udara (andil 0,03 persen) karena lonjakan permintaan liburan. Bawang putih (andil 0,02 persen) dan telepon seluler (andil 0,01 persen) juga menyumbang andil akibat pelemahan Rupiah dan gangguan pasokan mikrochip global.

​Sebaliknya, laju inflasi berhasil diredam oleh deflasi pada sejumlah komoditas pangan pokok yang pasokannya melimpah, seperti daging ayam ras (andil -0,07 persen), cabai rawit (andil -0,04 persen), dan udang basah (andil -0,03 persen), serta adanya koreksi harga emas perhiasan dunia (andil -0,02 persen).

​Keberhasilan menjaga inflasi tetap berada pada rentang sasaran ini tidak lepas dari eratnya sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Malang melalui implementasi strategi berbasis Kerangka 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.

​Sepanjang Juni 2026, TPID Kota Malang telah bergerak aktif memantau harga pangan pokok, menggelar Rapat Koordinasi Teknis bersama Fuel Terminal Manager Pertamina untuk memitigasi dampak penyesuaian harga BBM, hingga memastikan kelancaran distribusi logistik pangan bersama Dinas Perhubungan.

​Ke depan, BI bersama Pemerintah Kota Malang berkomitmen memperkuat langkah pengendalian lewat Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) dan optimalisasi strategi 4K demi menjaga stabilitas pasokan dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *