Mahasiswa tidak hanya butuh keterampilan klinis, tetapi juga metodologi riset dan kemampuan beradaptasi di lingkungan akademik yang berbeda
Kota Malang, Bhirawa
Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FK UB) terus memacu kiprah mahasiswanya di kancah global. Melalui Research Exchange Program yang difasilitasi Medical Students’ Committee for International Affairs (MSCIA) UB, sejumlah mahasiswa dikirim untuk menjalani riset mendalam di berbagai institusi akademik mancanegara.
Program yang berafiliasi dengan jaringan IFMSA SCORE ini memberikan kesempatan bagi calon dokter untuk menyelami dunia penelitian selama satu bulan di bawah bimbingan pakar internasional. Pada tahun 2025 ini, delegasi FK UB tersebar di beberapa negara, mulai dari Rumania (Cluj-Napoca dan Iasi), Portugal (Lisbon), hingga Mesir (Benha).
Ketua MSCIA UB, Rhaina Chandra Mahira mengungkapkan, keberangkatan mahasiswa dilakukan dalam beberapa gelombang. Pada Juli mendatang, diperkirakan ada delapan mahasiswa yang berangkat, disusul dua mahasiswa pada Agustus.
”Setiap batch jumlahnya dinamis, menyesuaikan kesempatan yang tersedia di negara tujuan. Fokusnya adalah memperkuat kemampuan riset sekaligus mengembangkan wawasan global dalam bidang kesehatan,” ujar Rhaina.
Di Portugal, mahasiswa menjalani penelitian di Gulbenkian Institute for Molecular Medicine (GIMM) dengan topik spesifik Synthetic Lethality in Cancer. Riset ini menitikberatkan pada analisis molekuler berbasis laboratorium yang sangat teknis.
Sementara itu, delegasi di Rumania terlibat aktif dalam penelitian bidang Gastroenterologi, Hepatologi, serta Metabolic-Associated Fatty Liver Disease (MAFLD). Di sana, mereka tidak hanya berkutat di lab, tetapi juga mengamati prosedur klinis seperti endoskopi dan fibroscan.
”Sebagai calon dokter, mahasiswa tidak hanya butuh keterampilan klinis, tetapi juga metodologi riset dan kemampuan beradaptasi di lingkungan akademik yang berbeda,” tegas Rhaina.
Pengalaman berbeda dirasakan Jihan Tabina Salma, mahasiswa angkatan 2022 yang menjalani program di Benha University, Mesir. Ia melakukan observasi di Departemen Oftalmologi, termasuk menyaksikan langsung prosedur operasi katarak.
”Melihat langsung pelayanan kesehatan di Mesir membuka wawasan bahwa pendekatan medis bisa sangat beragam, tergantung sistem kesehatan dan latar belakang pasien. Ini memotivasi saya untuk terus mengeksplorasi dunia riset global,” aku Jihan.
Selain aspek akademik, para peserta juga mengikuti program cultural exchange untuk mengenal budaya setempat dengan pendampingan dari anggota IFMSA di negara tujuan. Melalui program ini, FK UB berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya mahir secara medis, tetapi juga memiliki jejaring internasional yang kuat.mut





