Prosesi wisuda UMM
Kota Malang, Bhirawa
Perkembangan masif teknologi Artificial Intelligence (AI) serta lompatan inovasi bioteknologi kefarmasian saat ini menuntut kendali penuh dari kebijaksanaan (wisdom) dan empati manusia. Lulusan perguruan tinggi pun diwanti-wanti agar tidak tunduk maupun dikendalikan oleh kecerdasan buatan tersebut.
Hal tersebut ditegaskan secara lugas oleh Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Prof. dr. Taruna Ikrar, M.Biomed., MD., Ph.D., dalam Orasi Ilmiahnya pada helatan Wisuda ke-122 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Hall Dome UMM, Kamis (9/7) kemarin.
Dalam orasi bertajuk “Synergizing Breakthrough of Neuroscience and Pharmaceutical Innovation with Regulatory Leadership”, Prof. Taruna memaparkan bahwa AI sejatinya adalah sintesis dari kapasitas otak manusia yang canggih, namun memiliki satu kelemahan mendasar, yaitu bergerak murni berbasis algoritma tanpa empati.
”AI bukan hanya untuk menolong kita, tapi bisa membahayakan masa depan dan mengancam keberlangsungan umat manusia sebagai khalifah. Oleh karena itu, AI harus dikontrol oleh manusia yang punya kapasitas emosional dan wisdom,” tegas pakar neurosains tersebut.
Selain menyoroti isu AI, Prof. Taruna juga memaparkan realita inovasi kefarmasian yang kini mengarah pada living therapy, di mana penyakit bawaan hingga kerusakan saraf akibat stroke kelak dapat disembuhkan melalui terapi sel hidup.
Guna menjembatani percepatan inovasi kesehatan tersebut, BPOM secara strategis mengusung konsep kolaborasi ABG (Academia, Business, Government). Konsep ini dirancang untuk mengintegrasikan riset murni dari kampus, kelengkapan fasilitas industri, serta kepastian regulasi dari pemerintah.
”Kami memadukan 187 universitas terbaik di Indonesia dengan sekitar 50.000 industri besar untuk melakukan transfer technology dan saling melengkapi. Salah satu output-nya adalah peluncuran riset vaksin mRNA pertama di dunia untuk demam berdarah,” urainya.
Sementara itu, Dewan Pakar Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Prof. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D., memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah taktis UMM dalam memadukan keilmuan dan praktik bisnis. Ia menilai UMM sebagai wujud ideal tata kelola kampus Muhammadiyah yang berani melakukan ekspansi usaha komersial sembari menjaga muruah akademik.
”Saya salut dengan seluruh civitas akademika UMM. Ada banyak perguruan tinggi Muhammadiyah, tapi yang berkembang pesat memadukan tempat sains dan tempat mempraktikkan ilmu seperti UMM ini tidak banyak,” ungkap Prof. Lincolin.
Merespons tantangan era disrupsi tersebut, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan bahwa UMM terus melakukan transformasi masif melalui program Center of Excellence (CoE) serta pembekalan digital dasar bagi mahasiswa. Kolaborasi lintas sektoral, termasuk dengan BPOM, akan semakin memperkuat ekosistem solusi komprehensif di kampus.
”Ke depan, UMM akan dilandasi tiga fondasi utama yang kami sebut Excellent Solution Center, yaitu pengembangan Service Excellence Hub, Industrial and Business Partnership, serta menjadikan kampus ini sebagai Talent Incubator Pool,” terang Rektor UMM.
Melalui momentum wisuda ini, Rektor berharap gelar sarjana, magister, maupun doktor yang diraih para lulusan dapat menjadi pilar solusi di tengah pusaran tantangan zaman, serta berkontribusi aktif membawa kemajuan bagi bangsa Indonesia.mut











