Malang, Bhirawa-Kebiasaan masyarakat yang kerap langsung memijat atau mengoleskan balsem panas saat mengalami cedera olahraga dinilai berisiko memperparah kerusakan jaringan. Penanganan cedera otot maupun sendi membutuhkan pemahaman kondisi tubuh yang tepat, bukan sekadar mengandalkan kebiasaan turun-temurun.
Hal tersebut ditegaskan oleh Perawat Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), Imelda Tri Omega, S.Kep., Ns., AIFO. Menurutnya, kurangnya pemanasan, faktor kelelahan, beban latihan berlebih, hingga gerakan yang keliru menjadi pemicu utama cedera saat berolahraga.
”Semangat menjaga kesehatan melalui olahraga perlu disertai kepedulian terhadap keselamatan diri. Ketika muncul keluhan setelah cedera, jangan memaksakan aktivitas dan carilah pertolongan tenaga kesehatan yang sesuai,” ujar Imelda.
Imelda menjelaskan, pertolongan pertama pada dugaan cedera jaringan lunak ringan—seperti terkilir atau cedera otot dan tendon—sebaiknya menerapkan prinsip PRICE, yakni Protection (melindungi area cedera), Rest (mengistirahatkan bagian yang sakit), Ice (kompres dingin), Compression (pembebanan atau balut elastis yang nyaman), serta Elevation (meninggikan bagian yang cedera melebihi posisi jantung).
”Langkah kompres es dilakukan dengan membungkus es menggunakan handuk tipis selama 15 hingga 20 menit, diulang setiap dua sampai tiga jam pada fase awal. Jangan menempelkan es langsung ke kulit,” jelasnya.
Sebaliknya, Imelda mengingatkan masyarakat untuk menghindari protokol HARM dalam tempo 48 hingga 72 jam pertama pascacedera. HARM meliputi Heat (pemberian panas), Alcohol (konsumsi alkohol), Running (melanjutkan lari atau aktivitas berat), dan Massage (pemijatan).
Tindakan pemijatan langsung pada area yang baru terkilir justru memicu pelebaran pembuluh darah dan memperparah pembengkakan maupun peradangan pada jaringan yang robek.
Meski pertolongan mandiri dapat dilakukan, masyarakat diminta waspada terhadap tanda bahaya cedera berat. Pemeriksaan medis wajib segera dilakukan apabila muncul nyeri hebat yang tak tertahankan, pembengkakan ekstrem, perubahan bentuk anatomi, kebas, area ujung kaki/tangan tampak membiru atau dingin, serta keluhan yang tidak kunjung membaik.
”Pertolongan pertama merupakan langkah awal. Jika keluhan menetap atau muncul tanda yang mengkhawatirkan, pemeriksaan klinis diperlukan agar pasien memperoleh penanganan sesuai tingkat keparahannya,” pungkas Imelda sembari mengimbau agar fase kembali berolahraga dilakukan secara bertahap. mut












