Mahasiswa PPG UMM Sulap Limbah Kulit Kopi Jadi Biobriket hingga Teh Cascara di Malang

Malang, Bhirawa – Limbah kulit kopi di sentra perkebunan kerap kali hanya berakhir sebagai pakan ternak atau pupuk organik. Berangkat dari kondisi tersebut, mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berinovasi memaksimalkan nilai guna limbah melalui program CascaLoop di Desa Sumbertempur, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang.

​Inovasi pengolahan limbah kopi ini berpuncak pada Workshop Inovasi bertajuk “Katalis Kopi” yang dihelat di Aula Balai Desa Sumbertempur, Rabu 16/9. Di bawah bimbingan dosen pengampu Maharani Putri Kumalasani, M.Pd., program yang mengusung slogan From Coffee Waste to Purposeful Products ini berlangsung intensif sejak pertengahan Juli hingga Agustus.

​Koordinator Tim, Fakhintan Ilza Karengga, mengungkapkan bahwa kegiatan diawali dengan observasi lapangan guna memetakan potensi masalah limbah pascapanen kopi. Tim melihat pemanfaatan limbah kulit kopi lokal masih belum maksimal dan perlu diberi sentuhan inovasi agar bernilai jual.

​”Pemanfaatan kulit kopi selama ini terbatas pada pakan dan pupuk. Kami berupaya mengolahnya menjadi produk turunan yang berdaya guna sekaligus memiliki nilai ekonomi lebih tinggi bagi warga,” terang Fakhintan.

​Sepanjang Agustus, tim sukses memformulasi empat produk utama berbasis kulit kopi (cascara), yakni biobriket, pengharum ruangan, kerupuk, dan teh celup.

​Biobriket diproduksi melalui proses karbonisasi atau menyangrai kulit kopi hingga menjadi arang, dihaluskan, lalu direkatkan menggunakan adonan tepung kanji sebelum dicetak dan dikeringkan. Sementara itu, pengharum ruangan dibuat lewat proses maserasi bubuk kulit kopi dengan alkohol khusus parfum di dalam wadah gelap, lalu disaring dan dipadukan dengan fixative serta air suling hingga aromanya matang.

​Untuk produk pangan, mahasiswa mengolah kulit kopi kering menjadi tepung halus sebagai substitusi bahan kerupuk gurih bersama campuran kanji, terigu, dan bumbu rempah. Terakhir, kulit kopi kering berkualitas disortir dan dikemas menjadi teh celup cascara ramah lingkungan yang praktis diseduh.

​Kepala Desa Sumbertempur, Edi Sucipto, mengapresiasi terobosan para mahasiswa UMM tersebut. Menurutnya, program ini membuka perspektif baru bagi masyarakat dalam mengelola potensi hasil samping perkebunan kopi di desanya.

​”Selama ini kulit kopi memang sebatas pakan atau pupuk. Kehadiran program ini memberi wawasan nyata bahwa limbah perkebunan bisa disulap menjadi aneka produk kreatif bernilai jual tinggi,” pungkas Edi.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *