Kota Malang, Bhirawa-Seni media digital berpadu apik dengan kecanggihan teknologi perangkat lunak. Terobosan ini dibuktikan oleh Dylan Leonaldo Pratama, mahasiswa semester 1 Program Studi Teknologi Rekayasa Perangkat Lunak (TRPL) Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB). Lewat bimbingan dosen Rachmad Andri Atmoko, S.ST., M.T., ia sukses merancang Antariksa, sebuah karya visualisasi galaksi 3D interaktif berbasis web.
Karya inovatif ini turut memikat perhatian pengunjung dalam ajang bergengsi DIPA MediaArt Festival 2026 yang dihelat di Gazebo Raden Wijaya Universitas Brawijaya, Malang, mulai 27 Oktober hingga 2 November 2026 lalu.
Berbeda dari ilustrasi luar angkasa konvensional yang kaku dan statis, Antariksa menyuguhkan simulasi tata surya dinamis pada layar sentuh berukuran besar. Pengunjung pameran dapat berinteraksi langsung secara real-time, mulai dari menyeret planet, mengatur lintasan orbit, membaca data astronomi, menabrakkan planet, memunculkan komet melesat, hingga menciptakan efek gravitasi lubang hitam (black hole).
Dari sisi arsitektur sistem, aplikasi ini dirancang menggunakan kombinasi HTML5, CSS, dan JavaScript murni dengan dukungan pustaka grafis Three.js (r128) berbasis WebGL. Interaksi pengunjung diakomodasi melalui Pointer Events API sehingga responsif terhadap sentuhan jari maupun kursor mouse.
Meski demikian, proses pengembangannya sempat menemui tantangan komputasi. Menampilkan puluhan ribu partikel bintang secara simultan sempat menyebabkan penurunan frame rate (patah-patah) pada perangkat berspesifikasi terbatas.
“Fokus awal saya adalah menghadirkan visualisasi galaksi yang tidak hanya indah secara estetis, tetapi juga interaktif dan responsif saat diakses masyarakat. Namun saat pengujian awal, animasi terasa berat ketika puluhan ribu partikel dan objek visual aktif bersamaan,” ungkap Dylan Leonaldo Pratama di sela pameran.
Guna mengatasi kendala performa tersebut, Dylan memindahkan kalkulasi gerak partikel langsung ke kartu grafis (GPU) memanfaatkan custom shader (GLSL), membatasi pixel ratio maksimal 2, menonaktifkan antialiasing, serta menyematkan opsi penyesuaian partikel dinamis mulai dari 10.000 hingga 200.000 partikel.
“Hasilnya animasi berjalan jauh lebih lancar dan stabil. Ke depannya, saya berencana menyempurnakan fitur interaksinya agar dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran astronomi yang lebih komprehensif,” imbuhnya.
Dosen pembimbing, Rachmad Andri Atmoko, S.ST., M.T., menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini merupakan bukti konkret efektivitas metode pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang diterapkan di Fakultas Vokasi UB. Mahasiswa tidak sekadar bergulat dengan teori grafika komputer di ruang kelas, tetapi langsung ditantang merancang produk siap uji di hadapan publik.
“Melalui pameran ini, kompetensi mahasiswa benar-benar terlatih secara menyeluruh—mulai dari pemrograman grafis 3D, pengoptimalan performa perangkat lunak, hingga kemampuan memecahkan kendala teknis secara langsung di lapangan,” papar Rachmad.
Ia menambahkan, perpaduan visualisasi interaktif dan seni media digital menyimpan potensi edukasi yang luas. Ke depan, karya rintisan mahasiswa vokasi ini diharapkan dapat terus dikembangkan menjadi sarana peraga edukasi sains yang menarik bagi institusi pendidikan dan masyarakat luas.mut












