Indra Kuspriyadi
Kota Malang, Bhirawa
Aktivitas ekonomi di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang pada bulan Mei 2026 diprakirakan mengalami perlambatan. Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis BI Malang, prakiraan penjualan eceran pada periode tersebut mengalami kontraksi sebesar -2,53 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Angka ini tercatat lebih rendah dibandingkan dengan realisasi pada April 2026 yang masih mampu mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,66 persen (mtm).
Kepala BI Malang, Indra Kuspriyadi, menyampaikan bahwa SPE ini merupakan salah satu indikator bulanan penting yang digunakan untuk memotret perkembangan kondisi ekonomi di wilayah kerjanya. “Survei ini bertujuan untuk mengetahui sumber tekanan inflasi dari sisi permintaan, sekaligus memperoleh gambaran mengenai kecenderungan konsumsi masyarakat,” ujar Indra Kuspriyadi.
Dari data yang dihimpun, penurunan omzet penjualan terdalam secara bulanan terjadi pada tiga kelompok komoditas utama. Kontraksi paling dalam dialami oleh kelompok barang budaya dan rekreasi yang merosot hingga ke level -12,95 persen (mtm). Padahal, pada realisasi April 2026, kelompok ini sempat melonjak tajam dengan pertumbuhan mencapai 21,98 persen (mtm). Berikutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau juga tercatat mengalami kontraksi sebesar -3,89 persen (mtm), disusul oleh kelompok kendaraan yang diprakirakan terkontraksi di level -3,59 persen (mtm).
Indra menjelaskan, anjloknya performa kelompok barang budaya dan rekreasi ini utamanya disumbang oleh subsektor alat tulis yang terkontraksi hingga -17,44 persen (mtm). Faktor utama pemicunya adalah belum optimalnya aktivitas pendidikan dan perkantoran pada periode tersebut, sehingga kebutuhan pembelian alat tulis relatif terbatas. Selain itu, konsumen cenderung menahan diri dan menunda pembelian perlengkapan administrasi hingga memasuki periode tahun ajaran baru atau saat aktivitas kerja kembali intensif.
Sementara itu, untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang terkontraksi -3,89 persen (mtm), capaian ini sebenarnya menunjukkan perbaikan jika dibandingkan dengan realisasi April 2026 yang sempat anjlok di angka -19,90 persen (mtm). Penurunan di bulan Mei ini lebih dipengaruhi oleh subsektor minuman yang terkontraksi sebesar -22,78 persen (mtm). Berdasarkan informasi dari para responden SPE, penurunan ini merupakan bentuk normalisasi konsumsi pasca-periode tinggi sebelumnya, di mana permintaan masyarakat mulai mereda dan konsumen mengurangi pembelian dalam jumlah besar.
Di sisi lain, kelompok kendaraan yang diprakirakan kontraksi sebesar -3,59 persen (mtm) juga menunjukkan grafik yang membaik dari realisasi April 2026 yang sempat terkontraksi hingga -8,22 persen (mtm). Kontraksi pada bulan Mei ini didominasi oleh subsektor mobil yang turun sebesar -3,94 persen (mtm). Responden SPE mengungkapkan, penurunan pada subsektor mobil terjadi karena konsumen cenderung menunda pembelian akibat belum adanya program promosi yang menarik, serta adanya sikap wait and see dari masyarakat terhadap peluncuran model kendaraan baru.
Kendati mayoritas komoditas mengalami penurunan, BI Malang mencatat beberapa kelompok komoditas masih menunjukkan performa positif. Di antaranya adalah kelompok barang lainnya yang tumbuh sebesar 3,16 persen (mtm), diikuti kelompok perlengkapan rumah tangga lainnya sebesar 2,17 persen (mtm), serta sektor suku cadang dan aksesori yang tumbuh tipis 0,23 persen (mtm).
Menurut Indra, kinerja positif di beberapa sektor ini mengindikasikan bahwa konsumsi masyarakat untuk kebutuhan tertentu yang bersifat lebih prioritas masih tetap terjaga, meskipun secara umum konsumen kini jauh lebih selektif dalam membelanjakan uangnya. Menyikapi dinamika ini, BI menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dengan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah guna menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi di Kota Malang. mut










