Sinergi UMM dan Dekranasda Bojonegoro Genjot IKM Lokal Tembus Pasar Global

Kerja sama FEB UMM dengan Pemerintah Kabupaten Bojonegoro resmi diteken

Bojonegeoro, Bhirawa

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (FEB UMM) resmi menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bojonegoro untuk mendongkrak daya saing Industri Kecil dan Menengah (IKM) daerah menuju pasar internasional.

​Sinergi taktis perguruan tinggi dan pemerintah daerah ini diwujudkan melalui pelatihan peningkatan kapasitas IKM binaan Dekranasda di Ballroom Eastern Hotel Bojonegoro, belum lama ini.

​Dalam kegiatan tersebut, tim dosen ahli FEB UMM membekali belasan pelaku usaha dengan materi mendasar namun krusial. Mulai dari strategi membangun daya saing usaha, penguatan branding, hingga nilai tambah pengembangan produk.

​Tak hanya teori, peserta juga mendapati pendampingan intensif seputar optimalisasi pemasaran digital, pemanfaatan platform e-commerce lintas negara (cross-border), hingga simulasi strategi ekspor yang disesuaikan dengan jenis produk masing-masing.

​Wakil Dekan I FEB UMM, Dr. Yuni Latifah S.E., M.AK., menegaskan bahwa kemitraan ini merupakan implementasi nyata Tridarma Perguruan Tinggi, khususnya di bidang pengabdian kepada masyarakat.

​”Potensi produk kerajinan dan IKM Bojonegoro ini sangat besar. Melalui penguatan kapasitas, inovasi, dan strategi pemasaran yang tepat, produk lokal punya peluang luas untuk menembus pasar internasional,” ujar Yuni.

​Senada dengan hal itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Bojonegoro, Dr. Hj. Cantika Wahono, mengapresiasi tinggi kontribusi Kampus Putih UMM. Menurutnya, kolaborasi ini menjadi momentum penting untuk mengelevasi kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) para pelaku usaha lokal di tengah pesatnya persaingan industri kreatif global.

​”Langkah ini diharapkan tak hanya sekadar meningkatkan kualitas produk kerajinan, tetapi juga memperluas akses pasar sehingga memberikan dampak ekonomi nyata bagi Bojonegoro,” tutur Cantika.

​Acara juga diisi dengan diskusi interaktif untuk mengurai berbagai hambatan riil pelaku IKM, seperti persoalan standardisasi kualitas produk, minimnya inovasi, hingga kendala adopsi teknologi digital. Melalui ekosistem terintegrasi antara akademisi dan pemerintah ini, IKM Bojonegoro didorong untuk makin berani melangkah dari pasar domestik menuju panggung global

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed