Malang, Bhirawa – Fenomena Sound Horeg kini semakin marak mewarnai perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia di berbagai daerah. Dentuman musik keras yang mengiringi karnaval dan kegiatan warga tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan wujud pergeseran cara masyarakat dalam mengekspresikan kegembiraan, kebersamaan, dan kebebasan di ruang publik.
Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., menilai Sound Horeg sebagai bagian dari dinamika budaya pop yang mencerminkan karakter masyarakat era postmodern. Perubahan bentuk perayaan kemerdekaan ini dipandang wajar seiring dengan makin beragamnya cara masyarakat menegaskan identitas kelompoknya.
“Sound Horeg menjadi ruang rindu sebagian anak bangsa untuk bertemu di ruang terbuka, melepas kepenatan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari, sekaligus mengekspresikan diri secara bebas. Meski menimbulkan pro dan kontra, secara sosiologis Sound Horeg tetap menjadi ruang bagi masyarakat untuk merasakan kebersamaan,” ujar Prof. Wahyudi.
Baca Juga: Dari Susu Basi Jadi Pupuk hingga Branding Gadung: Inovasi KKN MAs UMM Beri Solusi Warga Kasembon
Perkembangan ini memperlihatkan adanya pergeseran dari bentuk perayaan tradisional menuju bentuk ekspresi yang lebih populer dan kontemporer. Sound Horeg kemudian hadir sebagai ruang perjumpaan warga untuk berkumpul, menikmati hiburan, dan menunjukkan eksistensi di tengah modernisasi.
Meski demikian, Prof. Wahyudi tidak menampik adanya persoalan kenyamanan publik akibat dentuman suara berintensitas tinggi. Kebebasan berekspresi di ruang publik dinilainya tetap harus dibatasi oleh penghormatan terhadap hak warga lain.
“Memang harus kita akui dentumannya mengganggu kemampuan normal manusia, khususnya pada suara dan rasa keindahan seni budaya. Namun, masyarakat tetap memperoleh keuntungan psikologis, ekonomi, dan relasional dari kegiatan tersebut,” jelasnya.
Dari sisi ekonomi, keberadaan Sound Horeg turut menggerakkan ekosistem lokal. Aktivitas ini memicu perputaran ekonomi mulai dari penyewaan armada truk, perangkat tata suara (sound system), retribusi parkir, hingga geliat pedagang UMKM di sekitar lokasi acara.
Lebih jauh, Prof. Wahyudi menekankan bahwa fenomena ini bersifat dinamis. Budaya pop akan terus berganti seiring pencarian identitas kolektif yang tak pernah berhenti.
“Budaya pop akan terus berganti dan setiap orang akan selalu mencari jati diri. Sound Horeg merupakan subvarian budaya yang mengikuti era postmodernisme dan menjadi salah satu bentuk pencarian identitas kolektif masyarakat,” pungkasnya.mut.






