Malang, Bhirawa-Persoalan limbah susu segar dan keterbatasan pemasaran produk lokal di Desa Wonoagung, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang, kini mendapatkan titik terang. Melalui program Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah–’Aisyiyah (KKN MAs) yang dituanrumahi oleh Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) sepanjang Agustus 2026, para mahasiswa menghadirkan deretan inovasi terapan bagi masyarakat setempat.
Susu segar yang selama ini hanya dijual mentah diolah menjadi yogurt bernilai jual tinggi, sementara susu rusak yang dulunya terbuang disulap menjadi pupuk organik. Tak hanya itu, potensi keripik gadung warga pun didorong lewat penguatan branding dan pemasaran digital.
Pengolahan susu menjadi produk bernilai tambah ini menjadi langkah strategis mengingat sekitar 60 persen produksi susu Indonesia berasal dari Jawa Timur. Kabupaten Malang sendiri menjadi salah satu sentra utama dengan produksi susu sapi mencapai 150.660 ton pada 2025, atau sekitar 31 persen dari total produksi Jawa Timur yang mencapai 475.394 ton berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur.
Ketua KKN MAs Kelompok 24, Oktafiyan Hilal Akmal, mengatakan inovasi tersebut berangkat dari pemetaan potensi sekaligus persoalan masyarakat. Desa Wonoagung memiliki potensi pertanian, perkebunan, dan peternakan yang masih sangat dapat dikembangkan.
”Kami mendampingi warga mengolah susu segar menjadi yogurt melalui proses pemanasan, pendinginan terukur, hingga fermentasi menggunakan starter bakteri baik,” ujar Oktafiyan.
Sementara untuk susu yang sudah rusak, lanjut Oktafiyan, mahasiswa tidak menyarankannya untuk dibuang. Berdasarkan penuturan masyarakat, pernah terdapat sekitar 25.000 liter susu rusak yang dibuang ke sungai.
”Susu basi itu kami manfaatkan sebagai bahan pupuk dengan menambahkan aktivator EM4, kemudian dicampur merata dan difermentasi hingga siap dipakai di lahan pertanian warga,” jelasnya.
Selain sektor peternakan, mahasiswa juga memfokuskan pendampingan pada potensi ubi gadung di Dusun Sempu Kidul dan Sempu Lor. Meskipun keripik gadung menjadi penopang ekonomi warga, pemasarannya masih terkendala karena mayoritas produsen merupakan lansia yang belum terbiasa menggunakan teknologi digital.
”Kami membantu dari sisi visual dan branding, mulai dari stiker logo yang nanti ditempel di kemasan, hingga media promosi seperti poster, pamflet, dan kartu,” tambah Oktafiyan.
Di luar inovasi ekonomi, tim KKN MAs UMM juga menjalankan pengabdian masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan. Mahasiswa terlibat aktif mengajar di SD Negeri 1 Wonoagung serta TPQ di wilayah Dusun Sepukul dan Toyomerto. Mereka juga menggelar pemeriksaan kesehatan gratis mencakup cek gula darah untuk lansia serta pendataan kondisi anak terkait pencegahan stunting.
Menanggapi hal tersebut, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN MAs Kelompok 24, Sofa Amalia, S.Psi., M.Si., mengapresiasi kepekaan mahasiswa yang mampu membaca kebutuhan riil warga di lapangan. Menurutnya, program ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak sekadar menjalankan rutinitas KKN, tetapi menghadirkan solusi konkret.
”KKN MAs menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berkolaborasi langsung dengan masyarakat. Harapannya, program yang sudah berjalan ini bisa terus dilanjutkan warga dan memberikan dampak yang berkelanjutan,” pungkas Sofa Amalia.mut






