Kota Malang, Bhirawa-Tekanan ekonomi menjadi faktor krusial yang mengikis kesehatan mental generasi muda di Kota Malang. Hasil riset kolaborasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) bersama Indopol Survey & Consulting mencatat sebanyak 90,23 persen anak muda di kota pendidikan ini mengaku mengalami tekanan finansial.
Bahkan, sebesar 71,67 persen responden menilai kondisi finansial tersebut berkontribusi nyata terhadap tingkat stres yang dialami. Selain itu, 18,33 persen responden merasakan keputusasaan berintensitas tinggi dan 15,67 persen merasa tidak berharga.
Hasil survei tersebut dipaparkan dalam agenda Diskusi Publik dan Rilis Survei bertajuk Generasi Muda di Bawah Tekanan Ekonomi, Kesehatan Mental dan Masa Depan Kota Pendidikan. Kerja sama ini melibatkan Program Globalizing UB 2026 serta Badan Akselerasi Akademik dan Kerja Sama (BAAK) FISIP UB dengan 600 responden berusia 17–43 tahun.
Direktur Eksekutif Indopol Survey & Consulting, Ratno Sulistiyanto, M.I.Kom., memaparkan bahwa survei berlangsung pada rentang 27 Agustus hingga 7 September 2026. Dari pemetaan faktor ekonomi, lonjakan biaya hidup menjadi pemicu utama yang dikeluhkan oleh 31,84 persen responden.
”Kesulitan mencari atau mempertahankan pekerjaan membayangi 16,44 persen responden, sedangkan 16,32 persen terbebani cicilan utang, termasuk pinjaman online (pinjol). Selain itu, ketatnya persaingan hidup di kota besar turut menekan 67,17 persen responden,” terang Ratno.
Menurut Ratno, beban psikologis yang berkepanjangan akibat persoalan ekonomi tidak cukup ditangani lewat meja konseling semata. “Kondisi kerja, pemenuhan kebutuhan dasar, beban utang, hingga tanggungan keluarga harus diintegrasikan dalam skema penanganan,” tegasnya.
Perbedaan Pola Tekanan: Warga Lokal vs Mahasiswa Perantau
Kajian riset tersebut memperlihatkan disparitas tekanan antara pemuda ber-KTP asli Kota Malang dengan mahasiswa perantau. Pemuda lokal cenderung menghadapi tekanan struktural jangka panjang, sedangkan perantau berkutat pada tekanan situasional akibat biaya hidup serta adaptasi sosial-akademik.
Pada kelompok lokal, jeratan cicilan dan pinjol mencapai 20,32 persen, masalah pekerjaan 19,59 persen, dan tanggungan keluarga 10,31 persen. Dampaknya, gejala putus asa intensitas tinggi pada pemuda lokal menembus 22,22 persen serta rasa tidak berharga mencapai 19,11 persen. Angka ini jauh melampaui kelompok perantau yang masing-masing mencatatkan 6,7 persen dan 5,3 persen.
Sebaliknya, 40,84 persen mahasiswa perantau terbebani lonjakan biaya hidup dan 22,51 persen dipusingkan urusan perkuliahan. Sebanyak 94,66 persen perantau memandang ekonomi memicu stres mereka, dengan gejala cemas dan sulit tenang mencapai 16,7 persen serta gugup tanpa sebab 12,7 persen.
Kesenjangan Akses Bantuan Profesional
Di sisi lain, terdapat jurang pemisah antara tingkat literasi layanan kesehatan mental dan pemanfaatannya. Kendati empat dari lima responden mengetahui sarana bantuan psikologis, hanya 14,65 persen yang mau mengakses tenaga profesional saat dilanda stres berat.
Mayoritas responden (76,50 persen) memilih mekanisme penanganan mandiri secara informal, seperti meluangkan waktu sendiri atau me-time (32,77 persen), mencurahkan isi hati kepada teman/keluarga (25,08 persen), hingga memendam beban sendiri (18,65 persen).
Dari sisi sosiologis, sebanyak 33,78 persen pemuda lokal merasa sungkan mengakses layanan, kendati realisasi kunjungannya mencapai 27,3 persen. Sementara itu, 90 persen perantau mengaku tidak malu berkonsultasi, namun hanya 7,33 persen yang pernah memanfaatkan layanan profesional.
Menyikapi temuan tersebut, FISIP UB dan Indopol merumuskan tiga rekomendasi strategis:
Layanan Psiko-Ekonomi Terpadu: Pemkot Malang disarankan merancang paket pendampingan bagi warga lokal yang mengolaborasikan konseling psikologis, literasi finansial, restrukturisasi pinjol, serta pelatihan kerja.
Kemudahan Akses Perantau: Membuka akses konseling di Puskesmas tanpa sekat administratif domisili atau kendala rujukan BPJS daerah asal.
Deteksi Dini dan Edukasi Komunitas: Mengoptimalkan skrining mental berkala melalui Posyandu Remaja dan kampus, serta membekali keluarga maupun komunitas sebaya dengan keterampilan pertolongan pertama psikologis lewat kanal digital populer.mut












