Terjebak Tren Diagnosis Mandiri di Media Sosial, Psikolog UM Ajak Masyarakat Kenali Diri dengan Bijak

Malang, Bhirawa — “Aku OCD banget, nggak tahan lihat meja berantakan.” “Suasana hatiku gampang berubah, jangan-jangan bipolar.” “Susah fokus seharian, kayaknya kena ADHD.”

​Kalimat-kalimat bernada diagnosis mandiri (self-diagnosis) tersebut kian lumrah terdengar dalam obrolan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda yang aktif berselancar di lini masa.

​Mudahnya mengakses konten edukasi kesehatan mental di TikTok, Instagram, hingga YouTube memang menumbuhkan kepedulian publik terhadap kondisi psikis. Namun, di balik dampak positif tersebut, muncul kecenderungan terburu-buru menyematkan label klinis pada diri sendiri tanpa melalui pemeriksaan ahli.

​Psikolog Klinis Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), Noventia Sekar Pratiwi, M.Psi., Psikolog, memandang fenomena ini sebagai alarm penting. Menurutnya, keinginan mengenali sinyal tubuh dan pikiran adalah langkah awal yang sehat, asalkan tidak berhenti pada kesimpulan sepihak.

​”Mengenali sinyal emosi itu awal yang baik, tetapi bukan berarti kita bisa langsung menyimpulkan punya gangguan tertentu. Setiap rasa yang muncul perlu dilihat secara utuh, mulai dari pemicunya, seberapa sering terjadi, intensitasnya, hingga sejauh mana hal itu mengganggu rutinitas harian,” tutur Noventia, Sabtu (17/10/2026).

​Noventia menguraikan sejumlah alasan psikologis mengapa seseorang begitu mudah merasa cocok (cocoklogi) dengan gejala gangguan mental di jagat maya:

​Bias Konfirmasi: Seseorang yang mencurigai dirinya mengalami ADHD cenderung hanya mengingat momen saat ia menunda tugas atau melamun, lalu mengabaikan faktor fisik seperti kelelahan atau kurang tidur.

​Efek Barnum: Kalimat umum yang multitafsir—seperti “kamu sering memendam perasaan padahal kepalamu berisik”—kerap dianggap sebagai diagnosis personal yang sangat akurat, padahal hampir setiap manusia pernah mengalaminya.

​Dikte Algoritma: Mesin media sosial terus menyajikan konten serupa ketika pengguna berinteraksi dengan tema tertentu, sehingga paparan berulang menciptakan ilusi kepastian atas kondisi yang sedang dialami.

​Rasa Ingin Dipahami: Memperoleh label gangguan kerap menghadirkan rasa lega karena seseorang merasa menemukan alasan atas kegelisahannya dan diterima oleh komunitas dengan keluhan serupa di internet.

​Kendati demikian, Noventia menegaskan bahwa kelegaan emosional sesaat tidak bisa menggantikan proses diagnosis medis. Sulit konsentrasi tidak otomatis berarti ADHD, rasa cemas sebelum presentasi bukan serta-merta gangguan kecemasan, dan kesedihan mendalam pascakegagalan bukanlah tanda pasti depresi.

​”Di ruang praktik, psikolog menilai dinamika kepribadian secara berlapis, mempertimbangkan riwayat tumbuh kembang, hingga mencari kemungkinan penyebab medis lainnya. Kondisi mental manusia terlalu kompleks jika hanya disimpulkan dari video berdurasi singkat,” jelasnya.

​Ia pun berpesan agar masyarakat tetap bijak memilah informasi digital. Media sosial semestinya berfungsi sebagai pintu masuk untuk lebih berempati pada diri sendiri, bukan palu hakim penentu diagnosis.

​”Mengenali diri itu proses bertumbuh, bukan perlombaan mengoleksi label medis. Jika beban pikiran terasa makin berat, menetap, dan mulai mengganggu kuliah, pekerjaan, maupun hubungan sosial, langkah paling bijak adalah merangkul kerentanan tersebut dan berkonsultasi langsung dengan ahlinya,” pungkas Noventia.mut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *