Malang, Bhirawa-Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat komitmennya sebagai kampus percontohan dalam penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) UB Green Campus, kampus PTN Berbadan Hukum ini mengusung dua program prioritas, yakni Smart Green Campus dan Zero Waste Management berbasis ekonomi sirkular.
Sekretaris Universitas Brawijaya, Dr. Tri Wahyu Nugroho, S.P., M.Si., menyampaikan bahwa UB ingin memberikan contoh konkret kepada masyarakat luas terkait upaya penurunan emisi karbon dan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
”Kita ingin institusi ini memberikan contoh dan praktik baik, terutama terkait efisiensi energi, pengurangan emisi, dan penciptaan ruang kampus yang sehat,” ujar Tri Wahyu, Jumat 11/9.
Sebagai bentuk implementasi nyata, UB menggelar kegiatan Car Free Day (CFD) secara rutin di kawasan kampus setiap pekan. Selain menekan emisi kendaraan bermotor di area rektorat, CFD dimanfaatkan warga kampus untuk berolahraga dan mengakses layanan publik gratis, seperti pemeriksaan kesehatan dan gigi.
Sementara itu, Ketua UPT Green Campus UB, Prof. Sri Suhartini, STP., M.Env.Mgt., Ph.D., menjelaskan unit yang dibentuk sejak Oktober 2025 ini berfungsi sebagai motor penggerak pelestarian lingkungan yang melibatkan seluruh unit kerja, fakultas, hingga kampus PSDKU Kediri dan Jakarta.
”Program Smart Green Campus mencakup pemanfaatan energi terbarukan melalui panel surya, sistem pemanenan air hujan (rain water harvesting), penyediaan free water filling station, hingga pemilahan sampah ke dalam lima kategori,” terangnya.
Untuk memaksimalkan edukasi ke generasi muda, UPT Green Campus juga membentuk Duta Kampus Lestari dari unsur mahasiswa sebagai perpanjangan tangan kampanye lingkungan.
Di sisi lain, program Zero Waste Management dirancang agar limbah aktivitas kampus tidak terbuang sia-sia, melainkan dikonversi menjadi produk bernilai guna. UB telah menyusun blueprint pengelolaan limbah B3, organik, anorganik, IPAL, hingga e-waste yang diproyeksikan menghasilkan 11 produk turunan.
”Fasilitas pengolahan limbah ini nantinya juga berfungsi sebagai living laboratory untuk tempat penelitian, magang, dan riset serapan karbon mahasiswa serta dosen. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi UB di pemeringkatan internasional seperti UI GreenMetric, QS Sustainability, dan THE Impact Rankings,” pungkas Prof. Sri. mut












