Kota Malang, Bhirawa — Kelompok 56 Program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) tahun 2026 menginisiasi pengolahan limbah berkelanjutan.
Tim ini dibimbing langsung oleh Dr. Eng. Akhmad Adi Sulianto, S.T.P., M.T., M.Eng. dan Dr. Ardaneswari Dyah Pitaloka Citraresmi, S.T.P., M.P., dengan melibatkan 13 mahasiswa lintas disiplin.
Inisiatif ini bermuka. dari temuan lapangan di UMKM Kajoo Living Seni Ukir Antik, yang mencatat timbulan serbuk gergaji berkisar 90–120 kg per bulan. Praktik pembakaran langsung yang kerap dilakukan sebelumnya berisiko tinggi mencemari udara serta memicu gangguan pernapasan bagi warga sekitar.
Guna mengatasi persoalan tersebut, tim merancang dua unit sistem terintegrasi: Tungku Pirolisis Kapasitas 200 Liter: Memproses karbonisasi serbuk kayu dalam kondisi minim oksigen agar menghasilkan arang tanpa menjadi abu.
Mesin Pencetak Briket Listrik: Memiliki kapasitas cetak 5–10 kg per jam untuk memadatkan adonan arang dan tepung perekat menjadi briket balok. Dari 1 kg adonan, sistem ini mampu menghasilkan sekitar 42 briket dengan durasi pembakaran efektif hingga 2 jam.
Selain menyerahkan unit alat, tim menggelar pelatihan operasional dan perawatan mesin pada 2 Juli 2026. Pelatihan ini diikuti oleh 20 peserta dari kalangan warga dan pelaku usaha mebel setempat. Efektivitas sosialisasi tercermin dari peningkatan nilai evaluasi pemahaman peserta yang melonjak dari rata-rata 12 poin (pre-test) menjadi 22 poin (post-test).
Langkah ini sekaligus memperkuat komitmen pencapaian target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals), utamanya:
SDG 7 (Affordable and Clean Energy): Menyediakan alternatif energi terbarukan murah bagi masyarakat.
SDG 12 (Responsible Consumption and Production): Menerapkan siklus ekonomi sirkular pada rantai limbah kayu.
SDG 13 (Climate Action): Menekan emisi gas rumah kaca akibat pembakaran liar.
Sinergi antara sivitas akademika FTAB UB, Kelurahan Tunjungsekar, dan pelaku UMKM membuktikan bahwa penerapan teknologi tepat guna berskala mikro dapat menjadi jalan keluar konkret atas isu lingkungan kawasan perperkot.mut












