Malang, Bhirawa-Kepemimpinan perempuan di lingkungan perguruan tinggi bukan sekadar pemenuhan kuota keterwakilan, melainkan ruang nyata untuk menghadirkan perubahan melalui gagasan, keteladanan, dan gaya memimpin yang inspiratif. Prinsip tersebut ditegaskan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang yang kini membuktikan komitmen kesetaraan gender dalam struktur tata kelola kampusnya.
Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Ilfi Nur Diana, M.Si., mengungkapkan bahwa saat ini sekitar 42 persen posisi kepemimpinan di lingkungan UIN Maliki Malang telah dipercayakan kepada perempuan. Dari sembilan fakultas yang ada, empat di antaranya dinakhodai oleh dekan perempuan. Selain itu, proporsi aparatur sipil negara (ASN) perempuan di kampus tersebut telah menembus 36 persen.
Penegasan itu disampaikan Prof. Ilfi saat memberikan sambutan dalam ajang bergengsi The 1st International Women’s Conference and Fatimah al-Fihriya Award 2026 yang dipusatkan di Kampus I UIN Malang, Sabtu 7/11.
”Perempuan yang diberikan kesempatan memimpin dapat menghadirkan inspirasi dan motivasi bagi lingkungan kerjanya. Kepemimpinan itu juga harus mampu mendorong perubahan melalui gagasan, ide, dan pendekatan yang membangun,” tutur Prof. Ilfi di hadapan peserta konferensi internasional bertema “Women’s Faith, Knowledge, Leadership, and Global Transformation”.
Menurut Prof. Ilfi, tolak ukur kepemimpinan perempuan tidak boleh berhenti pada angka statistik atau banyaknya jabatan yang diduduki semata. Lebih jauh, ruang tersebut harus mampu melahirkan lingkungan kerja yang inklusif, adil, serta tidak diskriminatif terhadap pihak manapun.
”Perspektif dan pengalaman perempuan harus menjadi kekuatan untuk membangun tata kelola organisasi yang lebih terbuka, adil, dan berkemajuan,” imbuhnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Profesor Muslimat Nahdlatul Ulama (APMNU), Prof. Dr. Hj. Amany Lubis, menyoroti pentingnya penguatan kapasitas dan pemberdayaan perempuan di berbagai lini kehidupan. Menurut Amany, penguatan di bidang ekonomi dan ketahanan keluarga menjadi modal mendasar agar perempuan memiliki daya saing dalam merespons dinamika zaman.
”Pemberdayaan perempuan tidak cukup hanya melalui peningkatan jenjang pendidikan formal, namun harus dibarengi kemandirian ekonomi serta kesiapan menghadapi perubahan sosial yang cepat,” tandas Prof. Amany.
Konferensi internasional perdana ini turut menghadirkan deretan tokoh perempuan nasional dan mancanegara, seperti Nezha Labidi (Tunisia), Bassima Hakkaoui (Maroko), mantan Presiden Singapura Halimah Yacob, serta tokoh perempuan nasional Dra. Hj. Sinta Nuriyah Wahid, M.Hum. Hadir pula Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI Arifatul Choiri Fauzi.
Mengusung keteladanan Fatimah al-Fihriya—tokoh perempuan pendiri Universitas Al-Qarawiyyin di Maroko—forum internasional ini menjadi wujud nyata UIN Maliki Malang dalam membangun ekosistem akademik berkeadilan dan memperkuat jejaring global kepemimpinan perempuan dunia.mut






