Malang, Bhirawa – Dinamika global yang diwarnai perubahan iklim, ketidakstabilan geopolitik, pergeseran peta kekuatan ekonomi, hingga lompatan teknologi menuntut ketangguhan organisasi dan ekosistem kewirausahaan. Merespons tantangan tersebut, Guru Besar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB), Prof. Mohammad Iqbal, S.Sos., MIB., DBA., CPM (Asia), memperkenalkan konsep terobosan bertajuk Model AISA.
Model AISA—yang mengintegrasikan empat pilar utama: Adaptability, Innovation Orientation, Support, dan Autonomy—dirancang sebagai pemungkin (enabler) dalam penguatan struktur organisasi sekaligus akselerasi ekosistem kewirausahaan nasional.
Mohammad Iqbal menyampaikan bahwa selama ini aktivitas kewirausahaan menjadi jembatan vital dalam menghubungkan antarnegara maupun antarentitas bisnis global. Namun, terdapat celah pengetahuan (knowledge gap) yang perlu dijawab terkait bagaimana perilaku kewirausahaan dapat bertransformasi dari sekadar konsep keprilakuan dan manajemen strategis menjadi sebuah budaya kolektif organisasi.
”Melalui pendekatan ini, kami melihat pentingnya menumbuhkan perilaku kewargaan organisasi dalam konteks kewirausahaan (entrepreneurial citizenship behavior),” terang Prof. Mohammad Iqbal, Jumat 6/11.
Menurutnya, model ini bertujuan membentuk individu di dalam organisasi agar tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga memiliki kesadaran proaktif untuk bertindak secara kewirausahaan demi kemajuan bersama, bukan semata-mata kepentingan parsial atau individual.
Lebih lanjut, ia merinci empat elemen kunci dalam instrumen AISA:
• Adaptability (Kemampuan Beradaptasi): Fleksibilitas organisasi dan sumber daya manusia dalam membaca arah perubahan lingkungan serta pasar.
• Innovation Orientation (Orientasi Inovasi): Kesiapan dan komitmen institusi untuk terus melahirkan ide baru maupun nilai tambah.
• Support (Dukungan Sistemik): Ekosistem kelembagaan yang menyediakan fasilitas, pembinaan, dan rasa aman bagi tim untuk bereksplorasi.
• Autonomy (Otonomi): Ruang kebebasan dan wewenang yang proporsional bagi individu dalam melakukan improvisasi serta inovasi kerja.
”Otonomi di sini memiliki makna strategis, yakni setiap individu di dalam organisasi diberi keleluasaan untuk berimprovisasi dan berinovasi secara terarah. Dengan demikian, muncul kesadaran kewirausahaan (citizenship) yang kokoh di semua lini,” tegasnya.
Iqbal menambahkan, Model AISA memiliki fleksibilitas penerapan yang luas. Pendekatan ini dapat diimplementasikan secara lintas sektor, mulai dari badan usaha swasta, organisasi publik/pemerintahan, hingga entitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan struktur skala kecil, menengah, maupun besar.
”Kemajuan dan keberlanjutan sebuah organisasi di era modern tidak bisa hanya bergantung pada rumusan strategi di atas kertas. Kuncinya terletak pada akselerasi, otonomi, dan kesadaran setiap individu untuk berjiwa serta bersikap kewirausahaan,” pungkasnya.mut






