Uji Dampak Mikroplastik Biodegradable, Riset Mahasiswi Pascasarjana UB Tembus Jurnal Internasional Q1

Malang, Bhirawa – Anggapan bahwa plastik ramah lingkungan sepenuhnya aman bagi ekosistem perairan mendapat sorotan kritis dari kalangan akademisi. Riset mendalam mengenai potensi toksisitas mikroplastik biodegradable terhadap mikroalga laut yang digagas Nur Aini Azizah, S.Pi., M.P., mahasiswi Pascasarjana Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya (FPIK UB), berhasil menembus publikasi jurnal internasional bereputasi Ecotoxicology (Scopus Q1).

​Penelitian berskala global tersebut berawal dari proyek riset yang memperoleh dukungan pendanaan kompetitif internal kampus melalui program Universitas Brawijaya Student Academic Research Scheme (UB STARS).

​Aini memaparkan, studi mikroplastik sejauh ini kerap terbatas pada pemetaan persebaran dan klasifikasi jenisnya, sementara dampak biologis dari residu degradasi plastik terurai masih minim dieksplorasi.

​”Tujuan kami adalah menguji secara empiris apakah plastik biodegradable yang selama ini dipromosikan sebagai solusi pengganti plastik konvensional benar-benar aman bagi ekosistem perairan, atau justru hanya berubah wujud dan tetap menimbulkan dampak negatif,” ungkap Aini.

​Melalui uji laboratorium terkontrol selama 96 jam, riset ini menganalisis respons biologis tiga jenis mikroalga laut terhadap air lindi (leachate) dari mikroplastik polipropilena terurai. Hasil uji menunjukkan bahwa Chlorella sp. menjadi spesies mikroalga yang paling rentan terhadap paparan senyawa tersebut. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi toksisitas menyeluruh sebelum material alternatif diproduksi massal.

​Keberhasilan publikasi ini merupakan buah kolaborasi riset lintas institusi antara Aini bersama dosen pembimbingnya, Prof. Ir. Aida Sartimbul, M.Sc., Ph.D. (FPIK UB), serta Dr. Ir. Dwi Hindarti, M.Sc., periset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Riset kolaboratif ini sebelumnya juga telah melahirkan publikasi ilmiah di jurnal Biotropika pada 2025.

​Perjalanan menembus jurnal Scopus Q1 diakui Aini melewati proses panjang sekitar sembilan bulan, lengkap dengan dinamika revisi hingga pengalihan fokus naskah agar selaras dengan ruang lingkup jurnal bereputasi tinggi.

​”Dalam penulisan akademik, peluang penolakan memang selalu ada. Kuncinya terus menulis, mengirimkan naskah, dan merevisi sampai tulisan tersebut menemukan rumah publikasinya. Jika kita tidak pernah berani mencoba, kita tidak akan pernah sampai di sana,” tegasnya.

​Temuan ini diharapkan menjadi rujukan ilmiah dalam perumusan kebijakan tata kelola plastik di Indonesia, sekaligus mendorong standardisasi material ramah lingkungan yang sepenuhnya aman bagi kelestarian laut. mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *