Malang, Bhirawa— Universitas Negeri Malang (UM) menggelar Pelatihan Pembuatan Konten Moderasi Beragama di Media Sosial untuk Mendukung Pembelajaran Berbasis Deep Learning pada Siswa Multi-Agama di Kabupaten Malang. Kegiatan yang berlangsung di SMP Darul Faqih Indonesia pada Sabtu (12/9) ini ditujukan untuk memperkuat literasi digital, toleransi, dan kemampuan peserta didik dalam menghadapi narasi ekstrem yang berpotensi mengganggu harmoni kebangsaan.
Program pengabdian masyarakat ini hadir sebagai respons atas kesenjangan literasi digital, keterbatasan interaksi lintas agama, serta maraknya narasi intoleransi di ruang digital. Melalui pendekatan pendidikan transformatif, siswa tidak hanya diarahkan untuk memahami keberagaman, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai toleransi menjadi karya positif yang dapat disebarluaskan di media sosial.
Ketua Pelaksana, Prof. Dr. Yusuf Hanafi, bersama Dr. Faris Khoirul Anam, Lc., M.H.I., dan Mochammad Rizal Ramadhan, M.Pd.I., merancang program ini dengan mengintegrasikan teknologi digital, deep learning, moderasi beragama, dan pemberdayaan komunitas.
Mengikis Radikalisme Lewat Pendidikan Transformatif
Dalam pementoran bertajuk Mainstreaming Moderasi Beragama & Bela Negara untuk Mengikis Radikalisme, Prof. Yusuf Hanafi menjelaskan bahwa radikalisme merupakan ancaman nyata bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menyoroti beberapa strategi kelompok radikal, seperti mengaburkan sejarah bangsa, merusak budaya lokal, dan mengadu domba masyarakat via isu SARA.
“Penguatan moderasi beragama tidak cukup dilakukan melalui pemahaman konseptual. Siswa dan guru perlu memiliki kemampuan mengenali ideologi radikal, mencegah pengaruhnya terhadap diri sendiri, sekaligus membantu lingkungan sekitar agar tidak terpapar narasi ekstrem,” tegas Prof. Yusuf.
Ia menambahkan empat indikator utama moderatisme: Komitmen kebangsaanToleransi, Anti-radikalisme dan kekerasan, Sikap akomodatif terhadap kearifan lokal
Di sisi lain, Dr. Tsania Nur Diyana, M.Pd. dari Universitas Negeri Yogyakarta menekankan pentingnya pendidikan yang mengubah cara pandang dan kebiasaan peserta didik.
“Sains memberi peta. Agama memberi kompas. Pendidikan mengubah keduanya menjadi tindakan,” ujar Dr. Tsania.
Rangkaian Program dan Target Capaian
Program yang direncanakan berlangsung selama sembilan bulan (Maret–November 2026) ini membekali peserta dengan modul pelatihan berbasis deep learning, panduan produksi konten, video tutorial, serta templat digital.
Tahap awal dimulai dari survei terhadap 200 siswa dan 50 guru, Focus Group Discussion (FGD), hingga pemetaan infrastruktur digital. Setelahnya, peserta akan mengikuti workshop bertingkat, pendampingan, dan kampanye media sosial.
Target Utama Program:
Pelatihan untuk 100 guru dan 100 siswa terpilih
Produksi minimal 100 konten digital moderasi beragama
Pembentukan 10 kelompok kerja lintas agama
Pelaksanaan 3 kampanye media sosial berskala regional
Dukungan Terhadap SDGs 4: Pendidikan Berkualitas
Inisiatif ini sekaligus menegaskan komitmen UM terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) indikator ke-4, yakni Pendidikan Berkualitas, melalui pengembangan pembelajaran inklusif, literasi digital, dan berpikir kritis.
Melalui integrasi literasi digital dan moderasi beragama, UM berharap dapat membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan, sehingga siswa mampu mengelola perbedaan secara dewasa dan produktif di tengah masyarakat.mut








