Malang, Bhirawa-Tumpukan limbah pertanian hingga 350 kilogram per hari di Desa Tawangargo, Kabupaten Malang, tidak lagi menjadi beban lingkungan. Melalui teknologi Pre-Kompos MultiStage, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengubah sisa hasil panen menjadi pupuk kompos berkualitas dalam waktu 14 hingga 21 hari.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Lembaga Semi Otonom (LSO) HIPOTESA UMM yang mendapat pendanaan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI. Program yang berlangsung sejak Juli hingga Oktober 2026 ini menyasar kelompok tani di kawasan hortikultura Desa Tawangargo.

Ketua Tim LSO HIPOTESA UMM, Intsya Bhiyuga Digjoyo, menjelaskan bahwa persoalan utama pertanian lokal adalah belum optimalnya pemanfaatan sisa produksi.
”Limbah organik pertanian yang sebelumnya menjadi sisa produksi kami dorong untuk kembali dimanfaatkan melalui Pre-Kompos MultiStage dan Trichoderma, sehingga mendukung sistem pertanian yang lebih berkelanjutan,” ujar mahasiswa Agroteknologi angkatan 2024 tersebut.
Inovasi ini bekerja melalui tiga tahap utama. Pertama, limbah organik dicacah hingga berukuran kecil. Kedua, kadar air dikurangi secara mekanis sebelum dikeringkan di dalam rumah kaca. Ketiga, bahan dicampur dengan agen hayati Trichoderma di dalam drum pengomposan.
Uniknya, drum pengomposan ini terintegrasi dengan teknologi Internet of Things (IoT) yang dilengkapi sensor suhu dan kelembapan. Apabila kondisi parameter pengomposan berubah di luar batas ideal, sistem buzzer akan berbunyi sebagai penanda bagi petani untuk segera melakukan penyesuaian.
Penerapan teknologi ini memangkas waktu pengomposan secara drastis, dari yang biasanya memakan waktu hingga tiga bulan menjadi hanya dua sampai tiga minggu. Kompos hasil olahan kini mulai diuji coba pada dua lahan percontohan milik petani guna mengurangi ketergantungan pada bahan kimia.
”Bagi kami, keberhasilan inovasi bukan hanya saat teknologi berhasil dibuat, tetapi ketika masyarakat mampu menggunakannya, merasakan manfaatnya, dan melanjutkannya secara mandiri,” tambah Intsya.
Program yang melibatkan 15 mahasiswa dan tiga relawan ini mencakup pendampingan menyeluruh, mulai dari perakitan alat, edukasi perbanyakan jamur Trichoderma, praktik produksi, hingga pelatihan pengemasan produk.
Dosen Pembimbing, Ganjar Adhywirawan Sutarjo, S.Pi., M.P., mengapresiasi keberhasilan tim. Menurutnya, keterlibatan langsung di lapangan memberi ruang bagi mahasiswa untuk menguji teori sekaligus memastikan inovasi mudah diterapkan masyarakat.
”Yang penting bukan sekadar teknologinya memiliki dasar akademik kuat, tetapi bagaimana inovasi tersebut disederhanakan dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat agar mudah diterapkan di tingkat desa,” tutur Ganjar..mut






