Gagas Solusi Kesejahteraan Guru Honorer, Tim Mahasiswa FBiPK UB Sabet Juara Umum PENA 3 di Bandung

Bandung, Bhirawa– Tim Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) UB sukses memborong gelar Gold Medal, Juara 1, sekaligus Juara Umum pada ajang Pekan Essay Nasional 3 (PENA 3) yang digelar di Politeknik TEDC Bandung, Minggu 4/10.

​Tim yang dibina oleh dosen Dr. Wisynu Ari Gutama, S.P., MMA. ini beranggotakan lima mahasiswa, yakni Revand Christ Zomen Simanjuntak, Maria Tetania Simanjuntak, Nabil Muhammad Ridwan Rustandi, Hanif Fathurrohmat, dan Yeka Vanly Kusumaningati.

​Dalam kompetisi bergengsi besutan Pena Competition bersama Politeknik TEDC Bandung tersebut, delegasi UB mengusung karya inovatif berjudul “GEMS: Optimalisasi Tata Kelola Kesejahteraan Guru Honorer Berbasis Merit System dan Good Governance Guna Mendukung Indonesia Emas 2045.”

​Gagasan ini dilatarbelakangi keprihatinan terhadap kesejahteraan guru honorer yang dinilai masih memerlukan tata kelola transparan, akuntabel, dan berbasis kinerja nyata. Lewat platform GEMS, tim menawarkan sistem terpadu yang memadukan prinsip meritrokrasi dengan integrasi teknologi digital mutakhir.

​Platform berbasis website tersebut dirancang memadukan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), Internet of Things (IoT), serta Distributed Ledger Technology (DLT) atau teknologi buku besar terdistribusi. Kombinasi teknologi ini difungsikan untuk memperkuat validitas data penerima manfaat, mempermudah pengambilan keputusan berbasis data, serta menjamin keterlacakan informasi secara akurat.

​Pembimbing tim, Dr. Wisynu Ari Gutama, mengapresiasi capaian anak asuhnya yang dinilai mampu merumuskan terobosan lintas disiplin, mulai dari kebijakan publik, tata kelola, hingga penerapan teknologi informasi mutakhir.

​”Kompetisi ini menjadi wadah penting bagi mahasiswa untuk mengasah kepekaan terhadap persoalan nyata di masyarakat, membangun argumentasi akademik yang kuat, serta merancang solusi yang aplikatif. Capaian ini diharapkan menjadi pemantik semangat untuk terus menghadirkan karya yang berdaya guna bagi publik,” ujar Wisynu.

​Perwakilan tim menyampaikan, dorongan utama merumuskan GEMS berakar pada kesadaran bahwa penguatan mutu pendidikan nasional sangat bergantung pada kepastian kesejahteraan para pendidik, khususnya tenaga honorer.

​”Prestasi ini memotivasi kami agar inovasi ini tidak berhenti sebagai naskah kompetisi semata. Kami berharap konsep GEMS dapat terus dimatangkan agar memberi kontribusi konkret bagi tata kelola pendidik demi menyongsong Indonesia Emas 2045,” tegasnya.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *