Malang, Bhirawa-Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) turut berkontribusi aktif merumuskan solusi krisis air dan transisi energi bersih di tingkat nasional. Dekan FBiPK UB, Prof. Mangku Purnomo, S.P., M.Si., Ph.D., mendampingi Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI, Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), meninjau langsung teknologi pengelolaan air di École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Swiss.
Agenda kerja strategis tersebut menyoroti pemanfaatan teknologi modern di tengah pesatnya kebutuhan air global, termasuk untuk pendinginan infrastruktur data center berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) serta ancaman kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan meninjau fasilitas EPFL Hydropower Laboratory, meliputi Technology Platform for Hydraulic Machines (PTMH) dan Hydraulic Constructions Platform (PL-LCH). Fasilitas ini mengadopsi teknologi digital twin “water-to-wire”, pengujian model berskala internasional (IEC 60193), hingga sistem pemeliharaan prediktif berbasis sensor fisik dan AI yang diimplementasikan di Sungai Aare.
Prof. Mangku Purnomo mengungkapkan bahwa keunggulan Sungai Aare dibanding sungai besar di Indonesia, seperti Sungai Brantas atau Citarum, bertumpu pada kedisiplinan ekosistem tata kelola dan konsistensi regulasi.
”Sungai Aare dikelola dengan aturan yang jelas dan ditopang kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan. Perbaikan sungai di tanah air tidak cukup bertumpu pada pembangunan fisik semata, melainkan menuntut pergeseran paradigma dan perilaku publik,” ungkap Prof. Mangku.
Menurutnya, air perlu diposisikan secara terintegrasi sebagai sumber daya lingkungan, penghasil energi hijau, sekaligus pendorong roda ekonomi masyarakat. Potensi sungai di Indonesia dinilai sangat besar asalkan model kolaborasi pentahelix—antara pemerintah, akademisi, swasta, dan masyarakat—berjalan beriringan.
”Pemerintah menetapkan regulasi yang pasti, akademisi memasok riset inovatif, sektor swasta masuk lewat investasi, dan masyarakat menjaga keberlanjutannya. Indonesia tidak perlu menjiplak Swiss mentah-mentah, melainkan mengadopsi sistem yang terbukti berhasil lalu menyesuaikannya dengan karakter lokal,” tegasnya.
Penerapan hasil pembelajaran dari EPFL ini diharapkan dapat diujicobakan melalui serangkaian proyek percontohan (pilot project) di Indonesia guna mewujudkan target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), utamanya terkait akses air bersih dan sanitasi (SDG 6), energi bersih dan terjangkau (SDG 7), serta penataan infrastruktur inovatif (SDG 9).mut






