Malang, Bhirawa-Wajah-wajah antusias terpancar dari puluhan Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang memadati kawasan Gongyong Rd, Jianguo Village, Pingtung City, Taiwan , belum lama ini. Di tengah padatnya rutinitas bekerja di negeri orang, para pahlawan devisa ini menyerap wawasan baru seputar hilirisasi pangan melalui teknologi modern. Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menggandeng Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Taiwan untuk mengenalkan inovasi Smart Smoking Cabinet.
Inovasi teknologi pengasapan terkendali ini dirancang menjadi amunisi berharga bagi PMI untuk merintis wirausaha mandiri saat purnatugas nanti.
Tim pengabdian UB diketuai Dr. Dodyk Pranowo, STP, M.Si, bersama anggota Dr. Dewi Maya Maharani, STP, M.Sc, dan Shirley Harry Saputra, S.AB. Program bertajuk “Dari Teknologi ke Nilai Tambah: Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia melalui Diversifikasi Produk Pangan Berprotein dengan Smart Smoking Cabinet” ini menyasar puluhan peserta usia produktif, rentang 21 hingga 38 tahun.
Anggota tim pengabdian UB, Dr. Dewi Maya Maharani, STP, M.Sc, menegaskan bahwa transfer teknologi ini tidak sekadar mengenalkan mesin atau alat kerja, melainkan membangun kesadaran rantai produksi yang higienis dan bernilai ekonomis tinggi.
”Teknologi Smart Smoking Cabinet kami tidak hanya diperkenalkan sebagai sebuah alat, tetapi sebagai bagian dari proses pemberdayaan,” ungkap Dewi.
Menurutnya, peserta dibekali pemahaman mendalam terkait pengendalian proses pengasapan—mulai dari pengaturan suhu, durasi waktu, sirkulasi udara, hingga pembentukan asap. Standar keamanan pangan ketat seperti Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) juga ditanamkan, mencakup higienitas bahan, pemisahan produk mentah dan matang, hingga pengemasan vakum.
”Peserta diajak memahami bagaimana pengendalian proses, penerapan GMP dan SSOP, serta pengemasan dapat menghasilkan produk pangan yang lebih aman, konsisten, dan memiliki nilai tambah. Kami berharap keterampilan ini dapat terus dikembangkan sesuai kebutuhan dan peluang PMI di Taiwan maupun ketika kembali ke tanah air,” imbuh Dewi.
Ruang diskusi pun berlangsung hidup saat mengulas ragam komoditas potensial seperti olahan ikan, ayam, telur, hingga cumi asap. Diskusi kian menarik ketika peserta menanyakan peluang pengasapan buah, yang kemudian diluruskan tim dosen UB mengenai perbedaan mendasar antara prinsip kerja pengasapan dan pengeringan.
Inisiatif penguatan keterampilan ini disambut hangat oleh diaspora tanah air. Leader PCINU Taiwan, Muhamad Akhiyar, menilai program kemitraan akademisi ini sangat aplikatif dan menyentuh kebutuhan riil para pekerja migran.
”Bagi kami, kegiatan seperti ini bukan hanya tentang transfer teknologi, tetapi bagaimana membangun kapasitas PMI agar memiliki keterampilan yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan produk pangan bernilai tambah. Kami berharap kerja sama dengan UB dapat terus berlanjut melalui pendampingan dan program-program berikutnya,” tutur Akhiyar.
Berdasarkan evaluasi di akhir sesi, program ini menuai apresiasi tinggi dari para peserta yang mengharapkan adanya pelatihan lanjutan berupa praktik pengolahan langsung, pengujian masa simpan produk, hingga pendampingan strategi pemasaran. Langkah kolaboratif lintas batas ini sekaligus menegaskan komitmen UB dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), utamanya pilar pekerjaan layak dan kemitraan.mut






