Malang, Bhirawa — Center of Excellence Community Based in Sustainable Agroindustry (CoE CBSA) Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menggelar Sekolah Lapang Budidaya Maggot, Selasa 21/10. Kegiatan ini menjadi bagian dari realisasi program INSaintek Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kemendiktisaintek.
Pelatihan terpadu ini terwujud lewat sinergi pentahelix yang melibatkan FTAB UB, UB Green Campus, Kelompok Lestari Kehidupan (KLK), KONEKSI, serta Himpunan Mahasiswa Teknologi Industri Pertanian (Himatitan). Fokus utama program diarahkan pada tata kelola limbah organik berbasis budidaya lalat tentara hitam atau Black Soldier Fly (BSF), pengolahan pascapanen, hingga hilirisasi produk berbasis ekonomi sirkular.
Agenda edukasi lapangan ini mempertemukan kalangan akademisi, masyarakat, pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mahasiswa, dan pelajar. Tak sebatas transfer teori, peserta mendapatkan transfer teknologi mulai dari pembibitan larva BSF, pengolahan maggot menjadi pakan ternak berprotein tinggi, produksi pupuk organik dari sisa residu (kasgot), hingga diversifikasi produk bernilai jual.
Dukungan berskala global turut memperkuat agenda riset terapan ini lewat kehadiran Prof. Prasad dari Griffith University, Australia. Kehadirannya memberikan dimensi internasional dalam pertukaran wawasan ilmiah mutakhir terkait keberlanjutan lingkungan global. Selain kalangan dewasa, para pelajar sekolah dasar dan menengah juga dilibatkan dalam sesi edukasi lingkungan aplikatif untuk menumbuhkan kesadaran sains sejak dini.
Ketua CoE CBSA FTAB UB, Prof. Sri Suhartini, menegaskan bahwa kemitraan strategis ini bertujuan membangun ekosistem inovasi di akar rumput secara berkelanjutan.
”Melalui kegiatan ini, kami ingin membuktikan bahwa limbah organik bukan sekadar residu lingkungan, melainkan sumber daya berharga jika disentuh teknologi yang tepat. Pendekatan ekonomi sirkular ini diharapkan dapat diadaptasi luas oleh masyarakat, termasuk mengoptimalkan pengelolaan limbah sisa bahan pangan di SPPG agar program layanan pemenuhan gizi berjalan efektif dan nir-limbah,” tegas akademisi yang akrab disapa Prof. Neneng ini.
Sinergi tersebut disambut positif oleh Pimpinan SPPG, Arief Bachthiar. Ia menilai pengolahan limbah organik terpadu memberi solusi konkret bagi operasional unit gizi sekaligus membuka peluang kemandirian ekonomi bagi warga binaan.
Sebagai langkah lanjutan, luaran inovasi dan model pemberdayaan masyarakat ini dipersiapkan untuk melaju ke ajang kompetisi rangkaian program INSaintek Dikti, yang berpuncak pada pameran Gebyar INSaintek.mut






