Jajaran Pimpinan BI Malang, dalam sebuah acara
Kota Malang, Bhirawa
Memasuki bulan Februari 2026, denyut nadi perdagangan eceran di wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang menunjukkan fenomena unik. Masyarakat terpantau mulai mengerem belanja barang-barang mewah dan kebutuhan tersier, demi mempersiapkan napas panjang menghadapi periode bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang kian dekat.
Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) yang dirilis Bank Indonesia Malang, prakiraan penjualan eceran pada Februari 2026 mengalami kontraksi sebesar -3,95% (mtm). Meski masih berada di zona negatif, angka ini sebenarnya menunjukkan tren pemulihan tipis dibandingkan realisasi bulan sebelumnya yang sempat terkontraksi di level -5,20% (mtm).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi mengungkapkan, fenomena ini merupakan cerminan dari strategi finansial rumah tangga di Malang Raya. Menurutnya, masyarakat saat ini jauh lebih selektif dalam mengalokasikan pengeluaran mereka.
”Masyarakat cenderung menahan pola konsumsi untuk barang-barang tahan lama (durable goods), seperti kendaraan dan alat komunikasi. Fokus utama warga saat ini adalah menjaga ketersediaan likuiditas guna menghadapi kebutuhan yang biasanya meningkat signifikan menjelang periode puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri,” ujar Indra Kuspriyadi.
Pengereman belanja paling terasa pada kelompok kendaraan yang terkontraksi hingga -7,40% (mtm). Penurunan ini didominasi oleh subsektor sepeda motor yang merosot tajam di angka -10,16% (mtm). Selain otomotif, kelompok peralatan komunikasi di toko juga terkontraksi sebesar -2,11% (mtm), yang dipicu oleh strategi pasar sejumlah merek besar yang memangkas harga produk lama seiring peluncuran seri terbaru.
Namun, di tengah kelesuan barang tersier, sektor kebutuhan pokok justru menunjukkan taji. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 7,88% (mtm). Hal ini mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga, namun fokusnya bergeser pada pemenuhan kebutuhan dasar.
Indra menambahkan, Bank Indonesia terus berkomitmen untuk memperkuat sinergi dengan Pemerintah Pusat dan Daerah melalui berbagai program strategis. Langkah ini dilakukan guna memastikan stabilitas ekonomi di Kota Malang tetap tangguh, terutama dalam menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan agar inflasi tetap terkendali.
”Kami terus memantau perkembangan ini dan memperkuat koordinasi agar momentum pertumbuhan ekonomi di Malang tetap terjaga di tengah dinamika konsumsi masyarakat,” pungkasnya. mut





