Malang, Bhirawa– Universitas Negeri Malang (UM) menegaskan pentingnya etika dan penggunaan akal sehat dalam memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan di lingkungan pendidikan. AI seyogianya diposisikan sebagai mitra belajar untuk mengakselerasi proses pembelajaran, bukan sebagai alat pengganti kemampuan berpikir manusia.
Hal tersebut ditegaskan Ketua Program Studi S1 Teknik Informatika sekaligus Koordinator Program Studi S2 Teknik Elektro UM, Dr. Eng. Didik Dwi Prasetya, S.T., M.T., dalam sesi wawancara bersama Tim Humas UM, Kamis (20/8). Menurutnya, akselerasi teknologi AI yang pesat harus diimbangi dengan kapasitas critical thinking (berpikir kritis) dari para penggunanya.
”Silakan pakai AI, tetapi harus diselaraskan dengan proses berpikir. Use AI to learn, not to avoid learning,” tegas Dr. Didik.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan AI sangat terbuka untuk mendukung efisiensi pengolahan informasi hingga mempermudah pekerjaan para pendidik. Bersama timnya, Dr. Didik bahkan telah mengembangkan model AI spesifik yang dirancang untuk membantu guru melakukan evaluasi dan asesmen jawaban peserta didik agar lebih konsisten dan memiliki penalaran (reasoning) yang terukur.
Meski demikian, pemanfaatan AI dalam mengerjakan tugas akademis wajib mematuhi batasan etis. AI idealnya ditempatkan sebagai kawan berdiskusi, pemantik ide, serta penyempurna draf riset, tanpa menghilangkan kontribusi pemikiran akademisi itu sendiri.
”Kita dapat memberikan bahan diskusi yang idenya dari kita, kemudian didiskusikan dengan AI. Saya rasa itu akan menghasilkan tulisan yang jauh lebih bagus. Jadi, kita berkolaborasi dan memanfaatkan AI, tentu dengan batas-batas etika,” paparnya.
Dr. Didik menambahkan, di era transformasi digital saat ini, kemampuan berpikir kritis menjadi benteng utama agar Civitas Akademika tidak menelan mentah-mentah luaran (output) dari AI. Setiap penggunanya dituntut untuk aktif memverifikasi, mempertanyakan, dan mengevaluasi validitas data yang dihasilkan sistem.
Pemanfaatan AI secara bertanggung jawab di lingkungan UM ini juga menjadi langkah konkrit dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-4 terkait Pendidikan Berkualitas. Lewat sinergi yang tepat antara teknologi dan kapasitas SDM, ekosistem pendidikan tinggi dipastikan tetap adaptif, relevan dengan dunia kerja, namun tidak kehilangan ruh utamanya dalam mencetak generasi berdaya pikir unggul.mut












