Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis” yang digelar di Auditorium UNESA
Surabaya, Bhirawa
Universitas Negeri Surabaya (UNESA) terus berkomitmen memperkuat budaya akademik yang kritis, dialogis, dan damai di lingkungan kampus. Hal ini diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Merajut Nalar dan Nurani Mahasiswa untuk Bangsa: Kritis Dialogis No Anarkis” yang digelar di Auditorium Fakultas Hukum UNESA, Sabtu (16/5).
Kegiatan yang diinisiasi oleh BEM UNESA ini menjadi ajang pertemuan lintas fakultas, mulai dari pengurus BEM, aktivis mahasiswa, hingga organisasi kemahasiswaan. Forum ini menghadirkan panel pakar lintas disiplin, di antaranya Pengamat Intelijen dan Keamanan Rizal Wahid, Ahli Menko Polkam RI Mufti Makarim, Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kota Surabaya Drs Imam Syafi’i SH MH, serta akademisi hukum UNESA Hikam Hulwanullah SH MH LLM.
Kasubdit Ormawa UNESA, Tutur Jatmiko, saat membuka acara menyatakan bahwa kampus harus menjadi ruang dialektika yang sehat. Ia menekankan bahwa perbedaan pendapat adalah bumbu demokrasi yang positif selama tidak berujung pada benturan fisik.
”Di UNESA, persinggungan ide itu hal positif. Alhamdulillah, di sini masih sangat nyaman. Setelah debat panas pun, biasanya mahasiswa tetap bisa duduk ngopi bareng. Itulah intelektualitas yang bermartabat,” ujar Tutur Jatmiko.
Ia berharap, output dari FGD ini tidak berhenti pada seremonial belaka, melainkan mampu melahirkan gagasan konkret terkait persoalan hukum dan sosial yang bisa dibawa ke level kebijakan lebih tinggi.
Senada dengan itu, Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i, mendorong mahasiswa untuk lebih peka terhadap isu-isu kerakyatan di lapangan. Menurutnya, forum seperti ini adalah kawah candradimuka bagi calon pemimpin masa depan.
”Mahasiswa adalah agent of change. Jika mereka terbiasa berdiskusi dan menyampaikan gagasan secara argumentatif sejak di kampus, maka saat mereka terjun ke masyarakat atau menjadi anggota legislatif nanti, kualitasnya akan jauh lebih baik,” urai politisi kawakan tersebut.
Sementara itu, Pengamat Intelijen dan Keamanan, Rizal Wahid, memberikan catatan strategis. Ia menilai mahasiswa dalam forum tersebut berhasil menangkap lima persoalan strategis nasional yang layak diperjuangkan melalui jalur advokasi kebijakan.
”Ini bukan sekadar seminar biasa. Harapannya, hasil rancangan mahasiswa ini menjadi policy brief yang hidup. Mahasiswa jangan hanya menawarkan gagasan, tapi juga kerangka regulasi dan langkah konkret agar bisa direalisasikan oleh pemerintah,” tegas Rizal.
Dari sisi teknis tindak lanjut, Kementrian Polkam berharap rekomendasi mahasiswa dikompilasi menjadi dokumen resmi. Dokumen tersebut nantinya dapat disampaikan secara formal baik ke pemerintah daerah, kementerian, hingga presiden sebagai kontribusi pemikiran dari dunia akademik.
Melalui kegiatan ini, UNESA kembali menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam mendorong penyampaian pendapat yang elegan, profesional, dan solutif bagi permasalahan bangsa.mut











