Dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan ini penuh kebersamaan dan antusiasme pada peringatan Hari Jamu
Kota Malang, Bhirawa
Semangat pelestarian budaya Indonesia terus digaungkan oleh sivitas akademika Universitas Brawijaya (UB). Memperingati Hari Jamu Nasional, Departemen Biologi Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) bersinergi dengan Pusat Inovasi Jamu UB menggelar gerakan Minum Jamu Bersama di area kampus setempat.
Kegiatan ini menjadi simbol nyata kepedulian akademisi muda terhadap warisan budaya bangsa, sekaligus mengedukasi pentingnya menjaga gaya hidup sehat berbasis kearifan lokal di tengah arus modernisasi.
Acara yang diikuti oleh jajaran dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan ini berlangsung dengan penuh kebersamaan dan antusiasme. Berbagai jenis jamu tradisional khas Indonesia diperkenalkan dan dinikmati bersama sebagai bentuk apresiasi terhadap kekayaan hayati Nusantara yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ketua Pusat Inovasi Jamu UB, Prof. Dr. Ir. Moch. Sasmito Djati, menyampaikan bahwa generasi muda memiliki peran yang sangat krusial dalam menjaga keberlanjutan budaya jamu di Indonesia.
“Pelestarian jamu tidak cukup hanya dengan mengenalnya, tetapi juga dengan membiasakan dan menumbuhkan kebanggaan terhadap produk herbal Indonesia. Kegiatan sederhana seperti minum jamu bersama menjadi langkah kecil yang bermakna dalam menjaga identitas budaya bangsa sekaligus mendukung kesehatan masyarakat,” ungkap Prof. Sasmito.
Senada, Sekretaris Pusat Inovasi Jamu UB, Dinia Rizqi Dwijayanti, menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi bentuk pendekatan persuasif kepada generasi muda agar lebih dekat dengan potensi herbal Indonesia melalui cara yang sederhana namun sarat makna.
“Mahasiswa perlu melihat bahwa jamu bukan sekadar minuman tradisional, tetapi juga bagian dari identitas budaya Indonesia yang memiliki potensi besar dalam bidang kesehatan, penelitian, dan inovasi. Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa bangga serta mendorong lahirnya generasi muda yang peduli terhadap pengembangan jamu berbasis sains,” jelas Dinia.
Tidak sekadar seremonial, gerakan edukatif ini juga membawa misi besar dalam mendukung target Sustainable Development Goals (SDGs). Di antaranya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui kampanye hidup sehat berbasis herbal alami, SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat edukasi budaya dan sains kepada mahasiswa, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui pelestarian warisan budaya lokal secara konsisten.
Melalui gerakan ini, Departemen Biologi FSTeM UB bersama Pusat Inovasi Jamu UB membuktikan bahwa tradisi minum jamu bukan hanya cerita masa lalu, melainkan bagian penting dari gaya hidup sehat masyarakat modern Indonesia.mut











