Prof Dr Nasrudin Subhi.
Kota Malang, Bhirawa
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) terus berkomitmen mencetak generasi muda yang memiliki ketahanan mental tinggi di tengah stigma “Generasi Stroberi”. Melalui Fakultas Psikologi, Kampus Putih ini menggelar kuliah tamu internasional bertajuk From Risk to Resilience: Psychological Approaches in Youth Development untuk membekali mahasiswa menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Agenda yang digelar di Aula GKB IV lantai 4 pada Jumat (8/5) lalu ini menghadirkan pakar dari Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Assoc Prof Dr Nasrudin Subhi. Dalam paparannya, Nasrudin menyoroti mutasi ancaman yang dihadapi mahasiswa di era digital, mulai dari perundungan siber (cyber bullying) hingga risiko penyalahgunaan zat berbahaya.
”Ancaman nyata yang dihadapi generasi muda sekarang bukan lagi sekadar setumpuk tugas atau ujian. Kalian berhadapan dengan monster siber dan jebakan zat berbahaya yang siap menggerus kesehatan mental,” tegas Nasrudin di hadapan para mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa kerentanan mental sering kali berakar dari pola asuh yang terlalu memanjakan, sehingga memicu benturan realitas (culture shock) saat memasuki dunia perkuliahan yang menuntut kemandirian. Jika tidak dikelola, transisi ini berisiko memicu depresi hingga tindakan agresi.
Sebagai solusi, Nasrudin menawarkan penguatan resiliensi mental melalui dua langkah esensial, yakni sikap asertif dan dukungan sosial (social support). Menurutnya, mahasiswa harus berani menentukan batasan diri.
”Kita harus memiliki sifat asertif. Artinya, Anda tahu kapan harus mengatakan ‘ya’ dan punya keberanian mutlak untuk menolak demi kebaikan diri sendiri. Selain itu, jangan asal bergaul. Carilah lingkungan sahabat yang saling mendukung dan menegur di masa sulit,” pesannya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Psikologi UMM, Hanif Akhtar SPsi MA, menyampaikan bahwa kolaborasi internasional dengan kampus negeri jiran ini merupakan langkah strategis untuk memperluas wawasan global mahasiswa. Pihaknya ingin mahasiswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap risiko psikologis.
”Mahasiswa saat ini hidup di tengah tantangan luar biasa kompleks. Melalui forum ini, kami membekali mereka cara mengenali faktor risiko sekaligus membangun resiliensi agar dapat berkembang secara adaptif,” tutur Hanif.
Langkah preventif ini diharapkan mampu menghapus stigma negatif terhadap Gen Z dan menggantinya dengan profil lulusan yang tangguh serta siap menghadapi dinamika global dengan mental baja. mut










