Prof Dr Ir Moch Sasmito Djati MS
Kota Batu, Bhirawa
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB) terus melakukan terobosan dalam hilirisasi hasil riset. Melalui forum “Ngopi Sam” (Ngobrol Santai Sama Media) di Warung Sukir, Kota Batu, Jumat (13/2),
Pakar Bioteknologi yang juga Guru Besar FMIPA Prof Dr Ir Moch Sasmito Djati MS memaparkan inovasi jamu modern yang mengolaborasikan kekayaan hayati lokal dengan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence).
Peria yang juga Ketua Dewan Jamu Indonesia mengungkapkan, riset herbal Indonesia kini telah memasuki babak baru. Tidak lagi sekadar mengandalkan kebiasaan turun-temurun, pengembangan produk kesehatan saat ini sudah memanfaatkan teknologi bioinformatika untuk memastikan akurasi manfaat dan keamanan dosis.
”Jamu itu asalnya dari kata ‘Jampi’ yang berarti doa. Namun secara ilmiah, kita harus presisi. Itulah mengapa kami menggunakan pendekatan AI dalam meneliti potensi tanaman herbal, terutama untuk menjaga stabilitas metabolisme tubuh,” ujar Sasmito di hadapan sejumlah wartawan,
mengenalkan dua produk inovasi unggulan yakni Beatrixslim dan Magherb. Beatrixslim difokuskan pada stabilisasi metabolisme lemak melalui mekanisme beta-oksidasi yang telah melalui uji coba signifikan untuk penurunan berat badan. Sementara Magherb dirancang untuk mengatasi gangguan lambung dengan pendekatan multi-organ, berbeda dengan antasida kimia yang hanya menetralkan pH secara instan.
Mantan Wakil Rektor UB ini menekankan pentingnya standarisasi dalam konsumsi herbal. Ia memperingatkan bahwa penggunaan tanaman herbal tanpa kajian ilmiah atau dosis yang tepat justru berisiko bagi kesehatan, seperti gangguan fungsi ginjal.
”Potensi biodiversitas kita luar biasa besar. Jika dikelola secara ilmiah dan memiliki nilai ekonomis, jamu bisa menjadi pilar kekuatan kesehatan sekaligus penggerak ekonomi nasional,” tegas peneliti peraih penghargaan nasional era Presiden Megawati Soekarnoputri ini.
Sementara itu, Dekan FMIPA UB, Prof Sukir Maryanto, menyambut positif hilirisasi riset ini. Ia berharap hasil penelitian para guru besar tidak hanya berhenti di jurnal ilmiah, tetapi mampu memberikan solusi nyata bagi kesehatan masyarakat dan mendapatkan pengakuan dalam sistem kesehatan formal.
”Kami mendorong agar produk herbal yang sudah teruji klinis dan memiliki izin BPOM ini nantinya dapat diresepkan secara medis. Ini adalah wujud nyata kontribusi akademisi untuk kemandirian obat nasional,” pungkas Prof Sukir. mut






