Dosen UB Patenkan Metode Isolasi Mikroba Penghasil Siderofor untuk Atasi Tanah Tercemar Merkuri

​Malang, Bhirawa— Tiga dosen Universitas Brawijaya (UB) Malang berhasil memperoleh paten atas metode isolasi bakteri endofit penghasil siderofor dari famili Poaceae atau kelompok rumput-rumputan. Riset ini dirintis guna mengatasi pencemaran logam berat merkuri akibat aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

​Ketiga periset tersebut adalah Dr. Reni Ustiatik, S.P., M.P. dan Prof. Dr. Ir. Yulia Nuraini, M.S. dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK), serta Prof. Dr. Suharjono, M.S. dari Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) UB Malang.

​Dr. Reni Ustiatik menjelaskan bahwa penelitian ini dilatarbelakangi maraknya aktivitas tambang emas rakyat di Lombok yang memakai teknik amalgamasi, yakni mencampurkan merkuri untuk memisahkan emas dari batuan tambang. Limbah berbahaya tersebut kerap terbuang tanpa pengolahan hingga terbawa limpasan air hujan menuju area persawahan warga.

​”Kami berupaya menempuh pendekatan biologis melalui pemanfaatan mikroba dan tanaman lokal, yaitu rumput belulang serta rumput Bermuda,” terang Reni.

​Riset ini dijalankan bersama International Research Center for the Management of Degraded and Mining Land. Dari sampel tanah dan jaringan tumbuhan di area terdampak, tim mendapati rumput belulang dan rumput Bermuda sanggup bertahan hidup di lahan berkadar merkuri tinggi berkat simbiosis dengan mikroba perakaran yang menopang pertumbuhannya.

​Reni mengungkapkan, pengujian laboratorium mendapati konsentrasi merkuri di tanah lokasi riset mencapai ribuan ppm, sementara pada vegetasi berkisar belasan hingga puluhan ppm.

​”Padahal regulasi BPOM menetapkan batas maksimal cemaran merkuri pada produk serealia hanya 0,05 ppm,” tegasnya.

​Tingginya akumulasi tersebut berisiko mengancam rantai makanan jika terserap komoditas pangan. Di sinilah peran siderofor bekerja. Senyawa alami produksi mikroba ini memiliki afinitas tinggi untuk mengikat ion merkuri di tanah sehingga tidak terserap jaringan tanaman.

​Riset yang dirintis sejak 2018 ini sempat tertunda akibat pandemi sebelum akhirnya rampung pada 2022. Pengajuan paten didaftarkan pada tahun yang sama dan resmi terbit pada 2026.

​Selain mengikat merkuri, konsorsium mikroba endofit ini terbukti mampu menambat nitrogen bebas, melarutkan fosfat, serta memproduksi fitohormon pemacu tumbuh seperti asam indol-3-asetat (IAA). Karakteristik tersebut membuka potensi pemanfaatannya sebagai formula pupuk hayati multifungsi.

​Uji coba skala pot membuktikan bibit yang diinokulasi mikroba tumbuh jauh lebih optimal. Bahkan pada uji cekaman kekeringan ekstrem terhadap tanaman tomat, tanaman perlakuan tetap mampu mempertahankan produktivitas buah dibanding kontrol tanpa mikroba. Pengujian keamanan hayati juga memastikan galur mikroba ini bersifat nonpatogen bagi manusia dan flora budi daya.

​Inovasi ini ditargetkan mempercepat bioremediasi lahan bekas tambang agar tanah kembali produktif dan aman ditanami komoditas pangan strategis seperti padi dan jagung.mut

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *