FGD bertajuk “Peluang Durian Nusantara Menjadi Primadona Komoditas Strategis Nasional” di Gedung Sentral FP UB, Jumat (13/2) kemarin.
Kota Malang, Bhirawa
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (FP UB) mulai tancap gas dalam mengupayakan durian lokal menjadi komoditas strategis nasional. Tidak sekadar menjadi komoditas hobi, FP UB mendorong transformasi durian Nusantara menuju sektor bioindustri berbasis riset yang mampu bersaing di pasar internasional.
Langkah strategis ini ditandai dengan peresmian Kelompok Kajian Durian FP UB yang dirangkai dengan FP UB Targetkan Durian Nusantara Tembus Pasar Global Melalui Bioindustri Group Discussion (FGD) bertajuk “Peluang Durian Nusantara Menjadi Primadona Komoditas Strategis Nasional” di Gedung Sentral FP UB, Jumat (13/2).
Dekan FP UB, Prof. Mangku Purnomo, menegaskan bahwa sudah saatnya paradigma pengembangan hortikultura diubah. Menurutnya, potensi durian Indonesia sangat melimpah, namun pengelolaannya masih belum menyentuh skala industri yang sistematis.
“Kita tidak bisa lagi berhenti pada komoditas hobi. Pertanian kita harus bergerak menuju bioindustri yang didukung riset, teknologi, dan kesiapan SDM. Tantangan besarnya adalah bagaimana membawa durian ini ke pasar global dengan standar industri,” ujar Prof. Mangku.
Untuk mempercepat langkah tersebut, FP UB kini mulai fokus pada pemetaan genetik dan pemanfaatan bioteknologi. Penggunaan metode penyuntingan gen (gene editing) dinilai menjadi solusi jitu untuk memangkas waktu pemuliaan varietas unggul dibandingkan cara konvensional yang memakan waktu lama.
“Peralatan kami sudah cukup lengkap untuk memetakan genetik durian. Pendekatan bioteknologi ini adalah peluang emas agar lahirnya varietas unggul bisa kita percepat,” imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, pakar durian dari IPB University, Dr. Ir. Mohammad Reza Tirtawinata, MS, mengingatkan pentingnya aspek budidaya yang berbasis pada habitat asli. Ia menyarankan agar tiap daerah fokus mengembangkan varietas lokal terbaiknya masing-masing.
“Pilih varietas lokal terbaik di daerah tersebut, lalu perbanyak. Indonesia harus membudidayakan durian sesuai habitat aslinya agar hasilnya maksimal,” jelas Reza.
Selain teknis budidaya, ia juga menyoroti pentingnya standarisasi kualitas melalui sistem grading. Pengelompokan kualitas buah minimal pada kelas 7 hingga 9 sangat diperlukan untuk menyesuaikan kebutuhan pasar, terutama mengingat sifat durian yang sangat sensitif terhadap perubahan iklim.
Hadirnya Kelompok Kajian Durian di FP UB ini diharapkan menjadi jembatan antara akademisi, praktisi, dan pemerintah dalam menyusun desain kebijakan hortikultura yang lebih berkelanjutan. Dengan kolaborasi lintas lembaga, termasuk BRIN dan IPB, FP UB optimis durian Nusantara akan menjadi primadona baru ekonomi nasional.mut








