Malang, Bhirawa-Upaya pelestarian kesenian tradisional Topeng Malangan mulai membuah hasil manis. Kesenian yang pada tahun 2024 lalu sempat masuk dalam catatan kritis terancam punah lantaran minimnya panggung, kini justru menjelma menjadi tontonan seni yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga Malang Raya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur, Evy Afianasari mengungkapkan, lonjakan antusiasme masyarakat terhadap Topeng Malangan menjadi bukti nyata keberhasilan program aktivasi ruang pertunjukan bagi para seniman.
Hal itu disampaikannya di sela-sela kegiatan Apresiasi Tokoh Topeng Malangan oleh Gubernur Jawa Timur yang berlangsung di Taman Krida Budaya, Jalan Soekarno Hatta No. 7, Kota Malang, Kamis (20/8) kemarin.
Baca Juga : 32 Pramuka Penggalang Kota Malang Siap Sukseskan Jamnas di Cibubur, Usung Kesenian Tari Topeng
Evy menegaskan, saat masuk dalam daftar kesenian terancam punah pada 2024 lalu, permasalahan dasarnya bukan terletak pada ketiadaan pelaku seni. Seniman Topeng Malangan di daerah sejatinya masih sangat banyak, namun mereka terkendala minimnya panggung dan wadah untuk menampilkan karya.
”Pelakunya masih banyak, tapi tidak ada panggung, tidak ada wadah untuk mereka beraktivasi. Karena itu sejak 2024 kita dorong aktivasi kembali dengan memberi ruang pertunjukan yang mempertemukan langsung pelaku seni dengan penonton,” ujar Evy.
Langkah konsisten tersebut membuah hasil signifikan. Indikator paling terlihat adalah melonjaknya jumlah penonton. Jika sebelumnya pertunjukan Topeng Malangan hanya dihadiri sekitar 200 orang, kini jumlahnya melesat drastis hingga menyentuh angka 2.800 penonton setiap kali digelar.
Tak hanya di panggung fisik, antusiasme masyarakat juga riuh di media sosial. Pertunjukan di Taman Krida Budaya Malang mendapat perhatian luas dari warganet, yang menandakan generasi muda mulai sadar dan peduli pada budaya asli Jawa Timur.
Menariknya, pelestarian Topeng Malangan kini tak sekadar berhenti di atas panggung pertunjukan. Gerakan budaya ini mulai merambah pada pemberdayaan ekonomi kreatif masyarakat. Salah satunya melalui keterlibatan kelompok ibu-ibu dalam pembuatan produk kerajinan berbahan dasar limbah tutup botol plastik yang diinisiasi oleh Raki Jawa Timur asal Kota Malang.
”Ini membuktikan bahwa ketika pelaku seni diberi ruang dan panggung yang memadai, kesenian tradisional mampu kembali mendapat tempat di hati masyarakat, sekaligus membuka peluang ekonomi kreatif berbasis warga,” pungkas Evy. mut












