Prof. Dr. Ir. Solimun, MS
Malang, Bhirawa
Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Solimun, MS, memperkenalkan inovasi strategis bernama CRICap (Credit Response Index Capability). Sistem ini dirancang sebagai platform pemetaan derajat respons kredit dan literasi keuangan masyarakat yang terstruktur serta tervisualisasi secara interaktif demi mendukung kebijakan ekonomi berbasis data (evidence-based policy).
Prof. Solimun mengungkapkan bahwa kehadiran CRICap diharapkan mampu menjadi solusi atas ketimpangan akses keuangan yang selama ini terjadi di berbagai daerah. Dengan data yang akurat, pemerintah daerah maupun lembaga keuangan dapat mengambil kebijakan yang lebih presisi.
Bagi Pemerintah Daerah, CRICap menawarkan efisiensi dalam pemanfaatan sumber daya dan anggaran. Melalui visualisasi interaktif, pemerintah dapat mengidentifikasi wilayah mana saja yang memiliki indeks literasi keuangan rendah.
”Dengan pemetaan ini, akurasi reformulasi program pembangunan dan pemberdayaan ekonomi akan meningkat. Sosialisasi dan edukasi dapat difokuskan tepat pada kelompok sasaran yang paling membutuhkan, sehingga program menjadi hemat biaya namun berdampak tinggi,” ujar Prof. Solimun.
Hasil analisis berbasis data riil ini diyakini akan memperkuat inklusi keuangan, yang pada gilirannya memicu geliat sektor riil dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan.
Tak hanya bagi pengambil kebijakan, manfaat besar juga menyasar langsung ke masyarakat. CRICap diproyeksikan mampu mengubah perilaku keuangan masyarakat menjadi lebih sehat dan bertanggung jawab.
Peningkatan pemahaman terhadap produk perbankan akan membuat masyarakat lebih percaya diri dalam mengambil keputusan finansial, terutama dalam mengelola pinjaman untuk modal usaha mikro dan produktif lainnya. Hal ini secara otomatis akan memperkecil ketimpangan akses terhadap sistem perbankan formal yang selama ini sulit dijangkau oleh kelompok masyarakat tertentu.
Dari sisi lembaga keuangan atau perbankan, CRICap membantu membangun ekosistem kredit yang lebih sehat. Dengan masyarakat yang memiliki literasi keuangan mumpuni, perbankan dapat memperluas penyaluran kredit secara bijaksana sekaligus menekan angka kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL).
Secara makro, inovasi ini menjadi pilar penting dalam pembangunan nasional. Terciptanya keseimbangan antara pertumbuhan sektor perbankan dan pemberdayaan masyarakat akan memperkokoh fondasi ekonomi nasional agar lebih resilien di masa depan.
”Tujuannya adalah pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, di mana kemajuan perbankan berjalan seiring dengan kesejahteraan masyarakat bawah,” pungkasnya.mut






